Saturday, October 22, 2016

Wind Flower



“Cinta itu buta,” bush. Asap rokok menghulu-balang seperti asap lokomotif putih pekat yang mengambang berputar mengelilingi atas ubun-ubunnya. “Cinta Pertama,” dia mendesah, mengusir gumpalan asap yang tak mau pergi dari atas kepala. Diraihnya segelas kopi pahit yang bertengger di meja. Diseruputnya sambil mengecap-ngecap dia menguap.

Hampir pukul sembilan siang ketika seseorang mengetuk pintu kamar kontrakannya yang berada di salah satu gang sempit di kampung ujung, sebuah perkampungan kumuh yang terletak di ujung jalan yang berakhir pada segaris pantai yang lebih menyerupai tempat sampah. Kumuh. Kotor. Bau busuk.

Ternyata Arif teman satu kantornya datang mengantarkan surat peringatan. Ini sudah yang ketiga dalam bulan ini dan minggu depan pasti Arif datang lagi membawa surat pemberhentian secara tidak terhormat dan pastilah tidak mendapat pesangon. Dia lemparkan amplop berwarna coklat itu ke lantai. Masa bodoh. Dia kembali duduk di kursinya. Membakar habis putung demi putung rokok dan menenggak kopi (bukanlah kegemarannya tapi karena persediaan gulanya telah habis).

“Cinta perlu. Tapi hidup itu realistis.” Suara Rida kembali tergiang di kupingnya. Cinta perlu. Tapi hidup itu realistis. Ya. Dia benar dan menjadi sangat realistis ketika memutuskan untuk lebih memilih mobil mewah ketimbang motor butut miliknya. Atau jelasnya mana mungkin dia mau bersusah payah menghabiskan sisa hidup bersama pria yatim piatu dan miskin pula.



“Yakinlah jika Rida adalah jodohku,” kalimat yang terus menerus dikumandangkannya, dan terus menerus pula disanggah kebenarannya oleh Ahmad.

“Jangan begitu. Jodoh itu ada di tanganNya Jar!” ujar Ahmad begitu terus tiap pagi ketika mereka baru sampai di kantor.

“Ah, Aku yakin bahwa Tuhan telah menciptakan Rida untuk ku,” kilahnya dan juga begitu terus setiap hari.

Keyakinan itu begitu kuat mengingat hubungan mereka dimulai sejak di bangku SMA. Dia pupuk kembang itu hingga tumbuh secantik ini. Namun mawar tetaplah berduri, di tancapkan pada jari-jari sang pemilik kebun yang setiap hari senantiasa merawatnya, menyirami penuh kasih sayang. Tapi bunga cantik itu kini serupa angin menguap yang cuma meninggalkan bekas luka tancapan durinya.

Bush. Asap rokok kembali mengepul dari mulutnya.

“Kau harus terima kenyataan Fajar!” ujar Ahmad tempo hari sembari menepuk bahunya, seolah mengirimkan sedikit energi yang dia rasa sudah percuma.

“Cinta itu buta, katanya.” Ahmad hanya terdiam mendengar kalimat Fajar menggantung bersama asap-asap rokok yang menggelinding di langit-langit rumahnya. “Cinta perlu. Tapi hidup itu realistis,” kalimat Rida menggema sekali lagi dari mulutnya.

Sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat yang cuma sekelebat mata dan bisa lenyap begitu saja. Dia dan Rida merajut cinta hingga terakhir dua bulan lalu ketika Rida memutuskan untuk menyudahi saja hubungan mereka. Yang dia tahu Rida kepincut dengan pria kaya yang juga rekan kerjanya.

Dengan hanya bermodalkan satu setengah bulan sebuah undangan berwarna merah jambu mampir kerumahnya. Undangan pernikahan Rida.
***


Dia berjalan menyusuri keramaian rutin tiap pagi di sebuah pasar tumpah di pinggir jalan raya dekat jembatan gantung yang tidak jauh dari rumah kontrakannya. Dia berjalan sedikit terhuyung, kemeja lusuh dipadu dengan celana koyak dan penampilan yang tak kalah berantakan dari got pembuangan sampah.

Dia terus berjalan bukan bermaksud berolahraga tapi karena motor bututnya telah tergadai di tetangga.

Hampir tiga bulan dia hidup seperti tak lagi bernyawa. Hanya segumpalan daging membungkus tulang yang memang sekarang tinggal tulang-tulang thok.

Tiba di sebuah jembatan gantung yang tak jauh dari pasar tumpah. Dia berdiri. Memandangi sungai yang penuh tumpukan sampah. Tak ada air mengalir. Cuma ada sampah.

“Kalau mau bunuh diri di sini percuma Mas. Nggak bakal mati. Lihat saja sampahnya. Bukannya tenggelam yang ada kamu malah jadi bau,” suara lembut seorang wanita sontak membuatnya kaget dan berbalik mencari-cari sosoknya.

Rupanya berasal dari seorang gadis jilbaber yang duduk di atas kursi roda, tepat di sebelah tubuhnya. Entah sejak kapan gadis itu ada di sana?

Gadis itu tersenyum ke arahnya. Dia pun membalas dengan senyum termanis yang pernah dia miliki.





Artikel Terkait

Wind Flower
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

2 komentar

October 23, 2016 at 9:03 AM delete

Apakah cerita di atas ada sambungannya, Anggi?
Siapa gadis jilbaber itu? Dan apa kelanjutan kisah hidup Fajar setelah bertemu dengan gadis itu?
Ah, jadi kepo nih.hehe

Reply
avatar
October 23, 2016 at 8:52 PM delete

ya cinta itu memang aneh., tanpa memintapun kadang cinta itu datang sendiri.., munkin ini sebuah Anugrah Dari-NYA.

Ceritanya menarik @Anggi ,, aku menikmati disetiap alurnya.

Reply
avatar