Thursday, November 17, 2016

18+

Sebuah cerita yang dengan tulus saya persembahkan kepada sahabat saya Anjar. Entah mengapa hari itu sangat berarti dan saya lupa memiliki teman sebaik dia. Untuk sebuah ketulusan yang tak bisa saya balas dengan apa-apa selain cerita yang bisa dibilang perlu banyak belajar, tapi semoga dapat menjadi pengingat hingga kita tua ya.







Bagaimana ya rasanya. Hmm… ehemn... henmnm… Tidak ada yang istimewa. Biasa saja. Tidak ada bedanya rasanya tetap sama seperti hari-hari lain. Diam. Sunyi. Berjalan menunduk hanya agar wajahku tak terlihat atau sebenarnya tak ada gunanya, karena memang aku tak pernah dilihat sekalipun ada. Mengharap dapat kejutan. Lupakan! Bahkan tidak ada yang mengingatnya. Termasuk kedua orang tua. Ibu yang lupa kapan pertama kali dia ngeden hebat kemudian keluarlah aku. Beliau memang tidak suka mengingat tanggal, bersusah payah mengingat kapan, dimana dan bagaimana. Yang penting tahu-tahu sudah muncul saja.

Kelas hari ini dimulai pagi, pukul 6 kurang lima belas menit. Satu jam bimbingan belajar bersama guru tiga mata pelajaran yang masuk dalam daftar UN. Hanya tiga kali dalam satu minggu, secara bergantian. Dan hari ini jadwalnya Bu Ani manusia dengan stereo ganda. Percayalah! Ketika dia menerangkan atau berbicara di depan kelas suaranya bisa terdengar sampai kamar mandi yang berada di bawah kelas 3AKA2, kelasku.

Pukul 06.15 aku bersama empat temanku, Riska, Putri, Retno dan Rahayu berlari menyusuri koridor sekolah. Ketika sampai di depan kelas 2PJ1 suara Bu Ani datang lebih dulu, mendahului gerak kakiku.

“Buset deh, Bu Ani,” Celetuk Retno yang berlari kecil di belakangku, disusul dengan tawa dari Putri dan Rahayu. Entah kenapa kami selalu kagum dengan kedasyatan suara Bu Ani yang jangkauannya mencapai 7 oktaf.

Kami bergegas menaiki satu-persatu ana tangga hingga tiba di kelas yang berada tepat di depan tangga. Retno memisahkan diri karena dia berbeda kelas dengan kami. Sedangkan aku, Riska, Putri dan Rahayu dengan santai masuk ke dalam kelas setelah Putri mengucapkan salam. “Assalamualaikum,” mewakili kami. Bu Ani yang sudah hafal betul karena setiap kali bimbingan selalu datang terlambat. Bukan hal baru dan sudah malas menegur.

Putri duduk di bangkunya yang berada di dekat pintu, Riska dan Rahayu duduk bersama di bangkunya yang berada di belakang tempat dudukku. Sedangkan aku. Lho kok aneh. Kosong. Biasanya dia sudah ada di sana sebelum aku datang. Memandang aneh tempat dudukku yang berada tepat di depan meja guru. Duduk dengan gusar karena tak menemukan teman satu bangkuku.

Anjar. Gadis ekstrovert super cerewet yang baru beberapa bulan memutuskan hijrah dan duduk di bangkuku. Entah ada angin apa? Awalnya aku merasa terganggu karena aku benci ekstrovert apalagi yang cerewet karena aku sangat menikmati kesendirian duduk melamun sendiri ketika guru sedang menerangkan walaupun harus menerima teguran terutama oleh Bu Tisha sang guru akuntansi yang paling dihormati, disegani bahkan kalau perlu disembah oleh seisi sekolah.

Ah, Anjar. Sekarang aku malah merasa kehilangan.

Nah, itu dia. Duduk di bangku paling belakang bersama Mita. Sedang apa dia di sana? Kenapa tidak langsung duduk di sini saja. Woy… kenapa kamu duduk di sana dan meninggalkanku sendiri di sini?

“Faranggi kenapa telat lagi?” suara Bu Ani membuatku menghentikan segala pergulatan di dalam otak dan seketika menatap lekat wajah Bu Ani yang kini duduk tepat di depanku. Ada tahi lalat besar di atas bibirnya.

“Oh, nganu Bu,” jawabku sedikit gelgapan.

“Rumahmu jauh ya dari sekolah? Kok hampir tiap hari terlambat tho, Faranggi,” ujar Bu Ani dengan intonasi memanjang mirip cengkok dangdut di akhir kalimat. Hanya guru-guru dan. teman yang tidak terlalu akrab saja yang masih repot-repot memanggil Faranggi, sisanya dengan iklash memanggil Anggi. Karena Faranggi terlalu panjang. Kadang ada yang hanya memanggil Gigi, Nggi, atau Enji (Putri yang sok kebule-bulean)

“Iya Bu,” jawabku singkat, padat dan tidak jelas. Bagi Bu Ani mungkin itu cuma alasan saja. Tapi... Bu Ani sebenarnya ingin sekali saya katakan bahwa rumah saya sungguh jauh dari sekolah. Butuh tiga puluh menit dengan naik angkot atau lima belas menit dengan naik motor. Tapi aku tak bisa naik motor dan tak ada yang bisa mengantarku dengan motor. Satu-satunya transportasi andalan ya angkot eksklusif berwarna hijau dengan stiker bertuliskan ’barokah’ di kaca belakangnya. Angkot milik tentangga Riska, Putri, Retno dan Rahayu (satu kampung). Dengan setia mengangkut kami berlima. Hanya berlima karena angkot ini khusus dan siap mengantar kami pagi-pagi karena angkot lain biasanya baru mengudara pukul 06.30 saja.

Ingin sekali aku katakan padamu Bu, tapi mulut ini serasa terbungkam. Kenapa sih harus bertanya padaku? Yakin Putri pasti dengan senang hati menjelaskannya. Karena aku duduk di depan meja Anda, karena Putri duduk jauh di ujung sana, tak usah repot menghampiri Putri. Selalu aku yang jadi sasarannya.

***



Hampir satu hari penuh kelas kosong tak termasuki guru satu pun. Pak Habibi jadwal olahraga pagi kosong. PKS, Bu Leli hanya masuk sebentar kemudian pergi lagi. Terakhir empat jam pelajaran non stop milik Bu Tisha, namun hari ini dia absen karena mengikuti study tour di luar kota. Empat jam pelajaran yang biasanya dua jam pertama di isi dengan mencatat dan dua jam berikutnya untuk menerangkan.

Berhubung Bu Tisha tidak ada praktis empat jam pelajaran di isi dengan mencatat. Mencatat. Aktiva, piutang, modal, neraca, jurnal umum. Hadeh.

Anjar yang sudah kembali ke habitatnya begitu Bu. Ani keluar kelas, bukannya mencatat. Ampun ini anak. Suka sekali mondar-mandir kesana-kemari. Lihat saja! Nanti kau akan dapat bonus lagi dari Bu Tisha karena catatanmu belum lengkap ketika harus di kumpulkan, tak usah repot-repot pinjam punya ku ya! Karena sudah pasti banyak yang mengantri untuk meminjamnya.

“Gi, anterin ke belakang yuk!” rajuk Anjar dengan manja.

“Minta yang lain saja sana! Aku sibuk”

“Bentar Saja, Gi,” rajuknya lagi.

Lima belas menit goresan tanganku di selingi suara merajuk Anjar minta di antar ke kamar mandi. Dan aku tak mau kalah. Tetap dengan pendirian. ”Moh”. Aku tidak mau ketinggalan moment mencatat yang syahdu. Dengan irama gesekan merdu pena di atas kertas sang belahan jiwanya. Aku juga dapat bonus dengan melamun gratis tanpa perlu di hardik kalau ketahuan.

“Ayolah Gi… Ayolah Gi… Ayolah Gi…”

Hadeh. Runtuh juga benteng pertahananku, rek.

“Ayolah!”

Menuruni anak tangga dengan malas ketika Anjar menggandeng tanganku tanda untuk bergegas. Barangkali dia sudah kebelet. Menuju kamar mandi perempuan yang berada persis di bawah kelas. Sebuah tempat kecil di pojok sekolah dengan tiga ruangan yang tak kalah kecilnya dan cermin besar yang menggantung di tembok kamar mandi tempat para perempuan cantik memperhatikan diri. Jujur cuma aku yang selalu melewatkan moment begitu keluar dari balik salah satu pintu tak lupa, karena wajib, memperhatikan diri dulu di depan cermin. Kalau perlu sambil senyum-senyum mirip orang gila sebelum benar-benar keluar dari kamar mandi. Aku tidak pernah melakukannya karena aku tidak cantik.

“Ikut masuk yuk!” ujar Anjar berdiri sembari membuka salah satu pintu.

“Ngapain?” aku mendelik menatap wajah cantik Anjar yang sumpah hari ini nyebelin banget.

“Temani aku bentar,” Anjar kembali merajuk.

Ah. Hari ini sungguh aneh. Penuh misteri. Misteri. Misteri gunung merapi. Misteri nini pelet.

Ku putuskan untuk masuk saja ke salah satu kamar mandi. Menghindari Anjar karena rayuan mautnya tidak bisa ku tolak. Manusia dengan simpati dan empati tinggi. Tak peduli apa jadinya diri sendiri yang penting teman happy.


Cuma lima menit di dalam kamar mandi yang terasa lamaaa sekali. Mencuci tangan sampai tiga kali. Merapikan baju yang sudah rapi. Setelah di rasa cukup kemudian keluar menengok Anjar apakah dia sudah selesai atau malah masih ngendon di kamar mandi.

Begitu ku buka pintu.

JEBYURRRR.

Tepat di muka ku. Hebat sekali. Satu ember air dituangkan di atas kepala. Basah. Belum puas masih dikasih bonus satu ember lagi yang kali ini di guyurkan oleh Putri. Benar-benar basah sudah.

Berteriak. Mengumpat. Sedangkan Anjar si penyiram bunga pertama telah kabur naik ke atas menuju kelas.

Kucing got. Aku. Cuma bisa berjalan sembari tak henti memaki mereka. Dan mereka cuma mentertawaiku dari atas jendela kelas. Satu kelas kompak. Di kelilingi pandangan aneh anak-anak kelas dua yang sedang duduk di depan kelasnya ketika aku lewat. Ada yang menatapku, ada yang mentertawaiku, ada juga yang melirikku gila.

Aku masuk ke dalam kelas dengan. keadaan basah seluruhnya. Mirip sungguh kucing got. Yang pertama. ingin ku lakukan adalah menjambak rambut Anjar. dan menjatuhkannya dari jendela kelas. Namun ternyata.

“Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun Anggi. Semoga panjang umur.”

Dengan berjalan perlahan sembari memopang kue besar dengan delapan belas lilin kecil terbakar di atasnya, di iringini suara nyanyian serempak (walau tidak satu kelas ikut semua). Aku terharu. Sungguh terharu. Seumur hidup orang tuaku bahkan lupa kapan anaknya ini diturunkan ke bumi lantas dilepas ke dalam dekapan mereka. Seumur hidup aku tidak pernah merayakan hari ulang tahun yang sekarang sudah mendarah daging bahwa hari ulang tahun tak begitu istimewa dan tak butuh di rayakan.

“Make a wish dulu dong!” ujar Anjar sembari menyodorkan kue tepat di depan muka.

Ku pejamkan mata hingga kemudian ku tiup perlahan lilinnya dengan bantuan Anjar dan beberapa teman karena lilinnya tak mau padam. Detik berikutnya kue itu telah mendarat di wajahku. Aku kembali teriak. Kembali marah. Dan ku kejar satu persatu dari mereka, ku peluk Anjar agar merasakan basahku, ku bekap wajah Putri agar penuh krim juga sepertiku. Ku gerayangi semua orang yang berada di sekelilingku. Saling melempar kue. Gaduh. Kelas jadi riuh.

Untuk pertama kalinya aku menggila. Untuk pertama kalinya ulang tahunku di rayakan, untuk pertama kalinya ada yang mau menyanyi lagu ‘selamat ulang tahun untukku’, untuk pertama kalinya ada yang ingat hari ulang tahunku. Adalah Anjar yang dengan iklas membawa kue sebesar itu dari rumahnya yang jaraknya lebih jauh lagi dari rumahku, dengan berusaha menjaga keseimbangan agar kue itu tak rusak tergencet penumpang bus lain atau lebih parah lagi bila terjatuh. (tak bisa ku bayangkan beratnya perjuangan Anjar) Itu sebabnya begitu datang dia tak lantas duduk di sampingku tapi duduk di belakang, di bangku Mita demi menyembunyikan kue nya.

Dan doa yang aku panjatkan.

“Semoga kita bisa selalu bersama, teman. Aku mencintaimu teman.”



Banyuwangi, 1 April 2013




Artikel Terkait

18+
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

8 komentar

November 17, 2016 at 2:49 PM delete

Wow, ternyata kejutan ulang tahun, meski harus basah kuyup tapi yang penting happy karena mendapat kejuatan yang special.

Reply
avatar
November 17, 2016 at 8:09 PM delete

aku bacanya tadi serius banget.. eh ujung2nya paling bawah ingat sesosok teman yg merayakan ulang tahun buat anggi, yah akhirnya basah kuyub deh kena siraman air ulang tahunnya.

Reply
avatar
November 17, 2016 at 11:00 PM delete

Sungguh seru banget certanya dan di bumbui humor2 yang selalu membikin senyum. Trus berkarya n smoga sukses.

Reply
avatar
November 18, 2016 at 2:25 AM delete

yey! ini moment tak terlupakan tentunya, aku lebih suka panggil Eva, maaf
Met berkurang persedian usiamu cantik, semoga sehat dan sukses untukmu
salam

Reply
avatar
November 18, 2016 at 5:45 AM delete

Walau basah kuyup,walau blepotan cream, itu benar2 moment tak terlupakan. Happi birthday Anggi 😀

Reply
avatar
November 18, 2016 at 7:08 AM delete

Itu maksudnya Ultah ke-18 kah? Hehee

Saya bisa merasakan keseruannya dan seolah berada disana. Sungguh moment yg luar biasa!.

Reply
avatar
November 18, 2016 at 2:16 PM delete

18+.
Kirain apaa.... nggak tahunya,___
Ah sudah lah.... hahahaha

Reply
avatar
November 19, 2016 at 7:59 AM delete

Kirain bakal BB sob, hehehe...

Reply
avatar