Monday, January 23, 2017

Wisnu Wardana (Bagian 2)

Baca Cerita Sebelumnya: Wisnuwardana (Bagian 1)




Tohjaya mengadakan pesta besar-besaran di istana setelah kabar terbunuhnya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tersebar ke seluruh Singhasari. Dirinya mengokohkan diri sebagai raja agung dan tidak ada yang dapat merebut tahta miliknya. Tohjaya merayakan kemenangannya dengan berpesta semalam suntuk bersama Pranaraja dan Lembu Ampal serta ditemani para penari.

Dengan langkah sempoyongan Tohjaya berjalan turun dari tahtanya dan memerintahkan Pranaraja membagikan makanan ke seluruh rakyat Singhasari.

"Aku raja yang baik, bukan," ujarnya dengan terbata-bata. Dia kembali menenggak kendi yang berada di tangannya, sambil menari diiringi sorak sorai Pranaraja dan Lembu Ampal.


Sementara itu Panji Patipati membawa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ke desa Lulumbang, desa kelahiran Panji Patipati. Di tempat ini juga keris yang diberi nama sesuai dengan pembuatnya itu ditempa, hingga kemudian memakan korban pertamanya, Mpu Gandring.

Mereka sampai di sebuah rumah yang dikelilingi tembok setinggi pundak orang dewasa, dengan dua buah pintu di bagian luar. Panji Patipati mengajak mereka masuk ke dalam. Ada dua pendopo berukuran kecil yang berhadapan satu sama lain, sementara di tengahnya ada pendopo yang memiliki ukuran lebih besar menghadap pintu luar.

Begitu masuk pekarangan yang cukup luas mereka melihat seorang pria bertelanjang dada sedang berlatih dengan tombaknya. Tubuhnya kurus dan mungil, namun gerakannya gesit, luwes seperti sedang kesurupan ular. Kuda-kudanya kuat menacap di tanah, sekali ayunan tombak di tangannya mampu menghancurkan setumpuk batu bata merah di depannya.

Pria itu menghentikan gerakannya begitu mendengar suara telapak tangan Panjipati beradu menciptakan bunyi 'prok prok prok'. Wajahnya nampak tidak senang, apalagi ketika matanya menangkap Ranggawuni, pria itu justru meludah.

"Kau benar-benar membawanya ke sini? Apa akal sehatmu sudah hilang?" ujar pria tersebut, dia mengambil kain hitam untuk menutupi dadanya.

Panji Patipati hanya tersenyum ke arah pria tersebut dan berjalan mendekatinya. Meskipun wajahnya terlihat murka tapi pria itu membiarkan Panjipati merangkul tubuhnya beberapa saat.

"Paduka, perkenalkan dia adalah Gunadarma." Panji Patipati memperkenalkan pria itu. Entah ada masalah apa, tapi Ranggawuni merasa pria bernama Gunadarma itu tidak menyukai kedatangannya. "Kita akan tinggal di rumahnya untuk sementara sambil menunggu Lembu Ampal," tambahnya.

"Jadi kau yang bernama Ranggawuni?" Gunadarma berjalan ke arah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Masih dengan sebuah tombak di tangannya. "Apa yang kau miliki sehingga kau berani memberontak ke pada Raja?"

"Jadi kau salah satu pendukung Tohjaya?"

Gunadarma tersenyum menyeringai, dia berjalan memutar mengitari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

"Jika ada yang ingin ke lenyapkan dari muka bumi ni, keturunan Ken Arok lah orangnya."

Ranggawuni semakin tidak mengerti, berada di pihak mana sebenarnya Gunadarma.

"Tunjukan kemampuanmu!" Gunadarma menyodorkan tombak ke arah Ranggawuni, sepertinya Gunadarma sedang menantangnya.
Gunadarma berjalan ke tengah pekarangan setelah kembali menanggalkan sehelai kain hitam yang membungkus dadanya. Dia mengambil sebuah kayu yang berbentuk mirip pedang.

Sedikit ragu Ranggawuni berjalan dan menghadap Gunadarma yang telah membentuk sikap kuda-kuda siaga. Tak mau kalau, Ranggawuni pun memegang tombak dengan kedua tangannya dan mengacungkan ujung tombaknya ke arah Gunadarma, mecoba mengintimidasi.

Ranggawuni mengarahkan tombaknya dengan gerakan menyilang sambil melompat ke arah Gunadarma, namun Gunadarma yang memang telah siap sedari tadi mampu menangkisnya dengan sebilah kayu yang dipegangnya. Kemudian Gunadarma membuat gerakan memutar ke arah belakang Ranggawuni, sikunya memukul tengkuk Ranggawuni hingga terhuyung beberapa saat ke depan. Dengan cepat Ranggawuni kembali berdiri, dia membalikkan badannya dan alangkah terkejut ketika Gunadarma mengarahkan kayunya ke lengan Ranggawuni.

Plak. Kayu itu menyabet lengannya. Andai yang dipegang Gunadarma pedang sungguhan, lengannya kini mungkin sudah terputus dari tubuhnya. Memanfaatkan kuda-kuda Ranggawuni yang lemah, Gunadarma kembali melancarkan serangan, tubuhnya setengah berjongkok dengan gerakan menyilang kakinya menjegal lutut Ranggawuni hingga dia terhempas jatuh ke tanah.

Dengan cepat Gunadarma berdiri dan mengacungkan ujung kayunya ke dada Ranggawuni.

"Orang seperti inikah yang berani menentang Raja?"


To Be Continued



Artikel Terkait

Wisnu Wardana (Bagian 2)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

18 komentar

January 23, 2017 at 7:29 AM delete

Latar belakang singosari memang selalu menarik untuk diteliti dan dikupas. Sejarah tentang para tokoh dipulau jawa bagian timur rupanya sudah menancap dipikiran admin.!
Jangan-jangan admin menyukai seni bela diri juga nih 😂
Sek' ta terawang dari jauh 😂

Reply
avatar
January 23, 2017 at 10:42 AM delete

Seru sekali itu Gunadarma melawan Ranggawuni, sepertinya Ranggawuni mengalah dalam pertarungan itu? tapi entahlah.. hehhee

nunggu next chapter aja!

Reply
avatar
January 23, 2017 at 1:08 PM delete

Pertarungan yang tak seimbang,apa ada maksud lain dari Gunadarma untuk menguji kemampuan dari Ranggawuni.

Baik. Saya tunggu kelanjutannya.

Reply
avatar
January 23, 2017 at 1:32 PM delete

Emmm.... (pegang dagu,berpikir sejenak).
Sepertinya Gunadarma sedang mengetes kemampuan Ranggawuni. Kemudian melatihnya ilmu kanuragan untuk melawan raja. Hehe

Reply
avatar
January 23, 2017 at 3:50 PM delete

wihh..ini pertarungan yang sangat hebat gunadarma yang bisa menangkis tombaknya ranggawuni, bakalah seru nih selanjutnya mba lis

Reply
avatar
January 23, 2017 at 4:04 PM delete

Pertarungan yg sepadan..

Cerita sejarah dalam balutan kolosal memang menyenangkan. Ada drama dan bela diri yg menghibur.

Reply
avatar
January 23, 2017 at 4:32 PM delete

Bagaimana dengan nasib Ranggaweni selanjutnya?

cerita mengundang penasaran

Reply
avatar
January 23, 2017 at 7:03 PM delete

Jadi ingin kembali ke masa lalu, kerajaan singosari memang puna kisah yg dahsyat tuk disimak

Reply
avatar
January 23, 2017 at 8:46 PM delete

kalo baca kisah2 kya gini, kdang suka ngeri sama pertarungn yang berujung pembunuhan

Reply
avatar
January 24, 2017 at 4:04 PM delete

Saya selalu suka dengan semua jenis cerita. Yang ini seru dan menegangkan... gak sabar nunggu kelanjutannya

Reply
avatar
January 24, 2017 at 11:42 PM delete

Ranggawuni begitu gesitnya. Untung kayu ya ? coba kalau palu dan arit atau pedang. Putus betulan itu tangan.

Reply
avatar
January 25, 2017 at 4:14 AM delete

Ranggawuni harus merguru lagi untuk bisa menandingi ilmu kanuragannya Gunadarma yang cukup tinggi..,

mungkin Ranggawuni harus belajar ilmu lampah lumpuh untuk bisa mengalahkan Gunadarma., haha

Reply
avatar
January 27, 2017 at 4:53 AM delete

Aku ada Arok Dedesnya Pram belom sempet kebaca:(

Reply
avatar
January 30, 2017 at 12:19 AM delete

haha ini seru ceritanya, saya pasti tunggu cerita selanjutnya nih

Reply
avatar
February 4, 2017 at 8:44 PM delete

prnah diceritaiin sama guruku nih tentang keris terkutuk mpu gandring itu tapi agak lupa :v jadi dengan cerita ini jadi bisa sedikit-sedikit nginget pelajaran sejarah lagi :D kalo ini cerita dibuat keluar plot kek drama korea kok aku bayangin nya macem goblin yak ? :v // maafkan ini comment paling absurd :( tapi aku tunggu next chap ya kak! keep writing (^^)/

Reply
avatar
February 13, 2017 at 3:53 AM delete

ini cerita terinspiraso dari cerita paska ceritanya ken arok dan ken dedes yang terkenal itu ya? kalau gak salah udah baca bagian 1nya cuman gak selesai sih hehe.
salam ya lama tak berkunjung kesini

Reply
avatar
February 18, 2017 at 6:36 PM delete

Penasaran dg kisah selanjutnya, nyimak dulu

Reply
avatar
February 28, 2017 at 1:54 AM delete

saya termasuk suka dengan cerita dengan latar belakang kerajaan singosari yang berujung sampai terbentuknya kerajaan majapahit.

Reply
avatar