Sunday, April 9, 2017

Fire

"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tidak masalah menjadi pecundang."


Seorang lelaki dengan rambut merah bangun dari tidurnya. Dia memegang kepala yang berdenyut sakit. Ia berusaha mengumpulkan nyawa secepat mungkin. Lalu secara gusar mencari asal suara tadi.


Tidak ada seorang pun di sekelilingnya. Hanya ada dia. Dan beberapa benda semisal sepatu, jaket, baju kotor, berserakan di lantai.


Kepalanya kian berdenyut sakit. Lelaki itu mengerang. Menutupi kepala dengan bantal. Ini efek semalam. Minuman haram itu. Ah, menjadi candu tenyata setelah dua tiga kali mencoba. Kini, setiap malam kalau tidak meneguk cairan itu, terasa hampa hatinya.
Ia tak bisa hidup dengan cairan itu. Meski di setiap paginya, ia sukses tetsakiti cairan tersebut.


Setelah agak baikan, dia bangkit duduk. Berdiri. Berjalan menuju kamar mandi.
Keluar dari sana, wajah lelaki tersebut basah.


Dengan langkah diseret, ia menuju jendela. Sebelum benar-benar sampai, matanya diganggu sebuah benda yang terletak di nakas. Ia menghampiri benda itu.


Sepotong baju koko, peci, dan kain sarung. Serta terdapat sobekan kertas kecil di sana.


'Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang Kyai, Nak.'


Matanya panas. Memerah. Dan setitik air menuruni rahang kerasnya.


"Aku terlalu hina ...."


Dia memandang pakaian itu lama.
Sepotong ingatan seseorang mengatakan kaliamat menohok melewati benaknya.


"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tak masalah untuk menjadi pencundang," secara tiba-tiba menggaruk rambut frustrasi. Dan membuang pakaian tadi ke lantai.


Tangannya meraih laci meja. Mencari sesuatu.


Ketemu!


Sebuah korek! Korek api.


Ia memandang bergantian korek dan pakaian tersebut.


Sepotong senyum setan terbit.
Huwahahahahaha.


Bakkar!!!


"Tidak masalah menjadi pecundang. Bukan begitu?" Senyumnya kembali terbit.


Dipandangnya korek api ditanganya. Dipatikkan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat. Sialan! Kepalanya terlalu sakit sampai tanganya tak mampu mematikkan korek api.


Dia terduduk. Kepalanya terasa semakin sakit. Frustasi. Apa ini? Cairan di pipinya? Cih!


Dengan langkah tergesa lelaki itu menuju kamar mandi, membasahi wajahnya, mengganti pakaianya. Dan pergi.


Ia butuh pelampiasan. Suatu kebisingan. Membakar sesuatu (mungkin). Langkahnya tergesa sepanjang jalan. Pikiranya berkecamuk. Ia bisa gila lama lama.


Di jalan yang dia bisa hanya meludahkan kata-kata buruk. Meracau. Menggila.


"Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang kyai, Nak."


Kata-kata buruk kembali terludah dari mulutnya.


Berkeliaran sepanjang jalan, hingga matahari terbenam. Menjalaninya seperti gelombang, hanya mengikuti dan tak punya pendirian.


"Hallo," seorang wanita dengan hijab berwarna biru tiba-tiba menyapanya.


"Assalamu'alaikum.." lanjut wanita tersebut, tersenyum.


Seketika dia menoleh ke arah asal suara dan terdiam untuk beberapa menit hingga akhirnya keluar sepatah kata dari mulutnya.


"Waalaikumsalam..."


Fiuh... mulut kotornya masih pantaskah mengucapkan salam.


"Abang mau kemana? Ke Masjid, yuk! Sudah hampir masuk shalat magribh nih," ujar wanita itu dengan senyuman menawan. Oh matahari sudah mulai terbenam rupanya. Dan wanita itu masih berdiri di hadapannya menunggu jawaban yang tak kunjung terlontar dari bibir pria itu. Dia sibuk memperhatikan senja.


"Kalau begitu saya duluan ya, Bang."


Wanita itupun berlalu dan dia hanya bisa memandanginya hingga bayangannya menjauh dan menghilang. Dia membalikkan badan, berjalan ke arah berlawanan dengan tujuan wanita itu. Dia berjalan cepat, setengah berlari. Hingga sampai di sebuah gedung tua yang dijaga oleh dua pria berwajah suram.


Dia masuk ke dalam gedung itu dan melewati kedua penjaga yang salah satunya menepuk bahu pria itu dan menghentikannya di ambang pintu.


"Bagi gue rokok dong, Yok!"


"Kagak ada Bang," ujarnya sambil melepaskan tangan penjaga itu kemudian masuk ke dalam.


Ternyata di dalam sudah mulai ramai. Riuh oleh suara debuman musik yang menghentak membikin kuping sakit. Tapi anehnya tempat ini banyak disukai terutama oleh orang-orang hilang arah seperti dirinya.


Dia melihat ke sebelah kiri, terdapat sebuah meja panjang yang dijaga oleh tiga pemuda yang siap menyediakan minuman yang akan membuatnya mabuk kepayang. Di sebelah kanan sudah dipenuhi orang-orang lupa diri. Mereka menari, laki perempuan meliuk-liukkan badan seperti kesurupan ular. Tak peduli tabrak sana tabrak sini yang penting happy. Mereka seperti sedang terbakar oleh sesuatu. Membara. Panas.
Datang ke sini semua orang dengan ketakutan.


Datang ke sini semua orang yang patah hati. Sepanjang malam dengan tangan kosong. Dengan langkah berbaris. Kita semua melompat. Kita semua menggila. Pria itu mulai bergabung dan dalam sekejap kehilangan dirinya dalam kebisingan. Membakar seolah dirinya api yang menyala dan tak mampu dipadamkan.


Angkat tanganmu dan buat kebisingan. Kita bakar di sini. Mari kita bakar di sini bow wow wow. Mari kita bakar.


DUAR....
Terdengar suara ledakan keras yang tidak diketahui asalnya. Asap putih tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan yang menyelimuti mereka yang sedang lupa diri. Tak ada yang peduli. Semua masih menari dan menyanyi la la la. Terbakar semangat membuat mereka lupa.


Hingga ketika panas itu menjadi lebih realistis. Dan bakar menjadi kata yang nyata. Ketika mereka sadar api sudah dimana-mana. Tinggal sejengkal menjilati tubuh mereka. Barulah mereka sadar dan berlari keluar. Sementara pria itu masih berusaha menjernihkan pikirannya. Dia pikir api itu hanya halusinansi semata. Karena dia sedang merasakan semangat memuncak, membara dan api membakar dirinya hingga tiada tersisa apa.


"Fire" oleh Ainuen Nadifah, Endach Septiani,  Faranggi Eva Lutvika.



Ini adalah cerpen kolaborasi ketiga aku bersama Ainuen dan Endach. Kok sering banget sih, bikin cerpen kolaborasi. Yup... kami yang tergabung dalam organisasi Blogger Muda (yang muda yang berkarya) padahal anggotanya cuma tiga. Memiliki jadwal rutin setiap minggu untuk membuat cerpen kolaborasi yang temanya mengambil dari sebuah lagu. Setelah kemarin kami menggunakan lagu favoritku "Beauty and The Beast" yang merupakan soundtrak dari film dengan judul yang sama. Kali ini kami mencoba membuat cerpen dari lagu favorit Ainuen, yaitu "Fire" yang dinyanyikan oleh boyband asal Korea Bangtanboys atau BTS.

Artikel Terkait

Fire
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

10 komentar

April 9, 2017 at 2:26 PM delete

Menulis kolaborasi memang menyenangkan apalagi alurnya pun nyambung satu sama lain. Pastinya saya suka membacanya.

Reply
avatar
April 9, 2017 at 8:18 PM delete

hore, aktif lagi ni mbak fara, dengan kolaborasi :)

Reply
avatar
April 10, 2017 at 9:07 AM delete

kolaborasi bikin 1 karya itu emang asyik mbak.

Reply
avatar
April 10, 2017 at 9:09 AM delete

mungkin nggak akan seaktif dulu lg nih mas :)

Reply
avatar
April 10, 2017 at 3:57 PM delete

Ada kesulitanku dalam berkolaborasi, yaitu menyatukan imajenasi, padahal asyik banget loh membuat cerita dengan kolaborasi

Reply
avatar
April 10, 2017 at 7:28 PM delete

Waw, dengan kolaborasi tentu makin semangat ngeblog ya Mbak. Misal kita pas males, tapi kedua teman semangat, pasti ikutan semangat :)

Reply
avatar
April 11, 2017 at 9:52 AM delete

Boleh juga kolaborasinya, mungkin tadi cerita seorang pemabuk yang berada disebuah discoutik yang sangat sulit menemukan jalan kembali. Begitulah miras bisa membuat kita lupa diri 😅

Reply
avatar
April 12, 2017 at 4:55 AM delete

rule kita sederhana kok mbak. tinggak ngelanjutin tulisan partner kolaborasi. suka nggak suka. imajinasinya mengalir aja.

Reply
avatar
April 12, 2017 at 4:58 AM delete

nah itu dia mbak. bisa jadi moodbooster ku :)

Reply
avatar
April 12, 2017 at 5:00 AM delete

bener tuh mas. ingat kata bang haji. mirasantika!!!! no way!!!! :D

Reply
avatar