Wednesday, May 31, 2017

Angin Apa Yang Membawamu Kembali?



Semilir angin musim kering ini mengingatkanku pada satu janji. Kamu berujar seolah-olah pasti, seolah aku dan kamu cinta sejati. Tapi ketika aku menyadari angin itu telah tertelan ombak dan buih, aku bisa apa selain duduk terdiam di pinggir samudera. Memang aku tidak pernah kamu bawa masuk, hanya duduk di ambang pintumu. Tidak masuk tidak juga keluar. Hingga saat ini, aku menunggu di ambang pintu.

Di antara karang dan debur yang mendayu-dayu seolah lagu sendu yang sedang bergurau, sementara aku patah sepatah-patahnya.

Lalu untuk apa kamu menyapa? Sekadar menanyakan kabar dan laki-laki baruku? Dia bukan apa-apa sebab kamu masih menggangguku. Mengacaukan pikiranku dengan sekali datang lalu pergi. Khas seorang angin.

Angin apa yang membawamu kembali?
Setelah sekian lama berembus pergi.
Angin apa yang membuatmu pulang?
Meningat mungkin aku bukanlah rumah bagimu yang tak akan pernah mengucapkan selamat datang.
Sama seperti ketika kamu pergi.

Tidak ada ucapan perpisahan atau selamat tinggal yang berarti cukup sampai di sini aku tidak mau kamu kembali.

Tapi kamu datang, menyapaku meski hanya singkat. Tahukah itu cukup membuatku berharap? Tahukah, itu cukup berarti sehingga aku berani bermimpi kamu akan membawaku pergi, berembus bersama, terbang berdua ke tempat yang dulu pernah kamu sebut rumah.

Dengan caramu memanggilku walau hanya berupa nama, ya kita telah lalui beberapa masa di mana aku menjadi namaku di setiap ujarmu yang menjadikan itu indah. Lalu sesekali kamu menyapa.

“Gi.”

Itu membuatku berani bermimpi bahwa kalimat selanjutnya adalah, “Maukah kamu menikah denganku.”


Artikel Terkait

Angin Apa Yang Membawamu Kembali?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

19 komentar

June 1, 2017 at 3:25 AM delete

Cinta jika sudah terlalu dalam tertanam, kadang masih saja mengharapkan hembusan angin. Sadar kalau angin itu hanya membawa berita palsu, angin hanya menina bobokan sesaat. Kemudian hati terluka dan terpanas oleh cuaca.
ah alangkah indahnya jika menemukan orang baru alangkah lebih mesranya dengan hal baru daripada hal lama yang akan membuat hati terluka.

Reply
avatar
June 1, 2017 at 7:46 AM delete

Angin apa yang membawamu kembali?
Dalam cerita ini menurutku cinta yang membawanya pulang
"Gi"
nama panggilan yang terdengar lebih indah dari orang yang telah membuatku berani kembali berharap dan bermimpi

Reply
avatar
June 1, 2017 at 10:50 AM delete

Percuma“Gi.”Walau ku katakan, “Maukah kamu menikah denganku?”itu serasa percuma, toh apapun yang kukatakan kau tetap menganggap aku angin. Wkwkwkk

Reply
avatar
June 1, 2017 at 1:10 PM delete

Angin apa yang membawaku kembali? Aku datang bukan karena terbawa angin, 'Gi'. Tapi aku datang justru membawa angin. Aku datang membawa angin, dan ingin membawamu terbang bersama mengarungi luas samudra. Tapi jangan lupa bawa pelampung ya. Haha

Reply
avatar
June 1, 2017 at 3:43 PM delete

Angin kebahagian untuk membawa masuk ke samudera menikmati sejuknya air laut dan indahnya pemandangan di alam bebas dinikmati berdua selamanya.

Reply
avatar
June 1, 2017 at 7:47 PM delete

☺ini ungkapan hati mbak Anggi ya?

Diam2 berkecambuk gelora rindu ya, mbak..

Lelaki yg tidak jelas dan tidak tegas di-delete saja dr ruang hati..meski berat dan sulit, harus diusahakan. Lama2 terbiasa dan insyaAllah diganti dg yg jauh lebih baik. Sibukin diri dg Allah saja. Belajar, memahami ilmu, ya ikhtiar juga nyari cowok sholeh yg siap nikah hehe

Reply
avatar
June 2, 2017 at 10:16 AM delete

Wew, tak disangka hebat juga dalam membuat prosa, seolah isi artikel ini seperti sebuah sastra saja.

Padahal sedang butuh kepastian he..he..

Tenang saya bantu doa dari sini semoga yang diharapkan terwujud.. 🙏

Reply
avatar
June 2, 2017 at 8:56 PM delete

Angin yang hanya meninabobokan dan angin yang hanya membawa kabar yang tak pasti.

Reply
avatar
June 6, 2017 at 7:33 AM delete

Kesetiaan cinta masih tergambar dari sosok cerita diatas.

Saya melihat teman2 MWB banyak berkumpul disini.

Reply
avatar
June 12, 2017 at 9:44 PM delete

duh, kalo aku mah ketika end atau di-end-kan aku suka dendam ke diri sendiri buat jadi lebih ok. dan ketika aku lebih Ok aku yakin bakal dapet yang lebih Ok. dulu sih sempat berharap juga maksudnya pernah ngerasai kayak tulisan ini, tapi di akhir, emang `dia` kayak angin yang berhembus sekilas bikin inget kemudian bergerak dan lupa ;)
semangat anggi ;)

Reply
avatar
June 19, 2017 at 9:39 PM delete

Mungkin kalimat yang mengatakan bahwa cinta sejati datang hanya satu kali, hmmm bisa dibilang benar juga. bisa saja mendapatkan pengganti namun tidak akan pernah sama perasaannya.

Reply
avatar
June 19, 2017 at 9:39 PM delete

Aku sedih karena itu benar sekali.

Reply
avatar
June 19, 2017 at 9:40 PM delete

Bukan kamu mas. bukan kamu kok. sumpah heheheh

Reply
avatar
June 19, 2017 at 9:40 PM delete

Aku bisa berenang kok Om Djack hehehe

Reply
avatar
June 19, 2017 at 9:41 PM delete

Banyak yang ingin ku ceritakan padamu mbak. andai saja aku mampu.

Reply
avatar
June 19, 2017 at 9:42 PM delete

Insya Allah... Aaamin. *masih berharap banget hehe

Reply
avatar
June 19, 2017 at 9:42 PM delete

Apa kabar Om? gabung di sini juga akhirnya

Reply
avatar
June 19, 2017 at 9:43 PM delete

Sebenarnya tidak ada yang salah. semua baik. aku baik. dia baik. aku mungkin nggak bisa lebih baik dari ini. yang bisa kulakukan sekarang hanyalah semangat. hehehe terima kasih....

Reply
avatar