Angin Apa Yang Membawamu Kembali?



Semilir angin musim kering ini mengingatkanku pada satu janji. Kamu berujar seolah-olah pasti, seolah aku dan kamu cinta sejati. Tapi ketika aku menyadari angin itu telah tertelan ombak dan buih, aku bisa apa selain duduk terdiam di pinggir samudera. Memang aku tidak pernah kamu bawa masuk, hanya duduk di ambang pintumu. Tidak masuk tidak juga keluar. Hingga saat ini, aku menunggu di ambang pintu.

Di antara karang dan debur yang mendayu-dayu seolah lagu sendu yang sedang bergurau, sementara aku patah sepatah-patahnya.

Lalu untuk apa kamu menyapa? Sekadar menanyakan kabar dan laki-laki baruku? Dia bukan apa-apa sebab kamu masih menggangguku. Mengacaukan pikiranku dengan sekali datang lalu pergi. Khas seorang angin.

Angin apa yang membawamu kembali?
Setelah sekian lama berembus pergi.
Angin apa yang membuatmu pulang?
Meningat mungkin aku bukanlah rumah bagimu yang tak akan pernah mengucapkan selamat datang.
Sama seperti ketika kamu pergi.

Tidak ada ucapan perpisahan atau selamat tinggal yang berarti cukup sampai di sini aku tidak mau kamu kembali.

Tapi kamu datang, menyapaku meski hanya singkat. Tahukah itu cukup membuatku berharap? Tahukah, itu cukup berarti sehingga aku berani bermimpi kamu akan membawaku pergi, berembus bersama, terbang berdua ke tempat yang dulu pernah kamu sebut rumah.

Dengan caramu memanggilku walau hanya berupa nama, ya kita telah lalui beberapa masa di mana aku menjadi namaku di setiap ujarmu yang menjadikan itu indah. Lalu sesekali kamu menyapa.

“Gi.”

Itu membuatku berani bermimpi bahwa kalimat selanjutnya adalah, “Maukah kamu menikah denganku.”



The Legend of Somplak



Kali ini saya ingin bercerita mengenai persahabatan, tentang tiga sahabat saya, sambil sedikit curhat ceritanya, karena sayapun merasa tertodong dan terpalak untuk membuat cerita empat somplak.

Siapa empat somplak?

Mereka adalah orang-terbaik yang diciptakan oleh Tuhan. Ketika aku mengatakan terbaik, percayalah... Mereka memanglah manusia-manusia yang diciptakan di atas kesempurnaan.


Sahabatku yang pertama


Perkenalkan, Riska Fibriana. Misterious Gilr yang satu ini merupakan gadis muslimah yang tidak hanya cantik melainkan memiliki kepribadian sholeha, dia yang merupakan karyawan sebuah perusahaan swasta ini juga dikenal sebagai gadis yang tidak hanya cerdas, namun juga kreatif. Dari tangan-tangan ajaibnya dia bisa menciptakan berbagai macam benda ataupun kerajinan tangan yang luar biasa indah.
Lihat saja hasil karyanya: 


Selain itu dia memiliki kebijaksanaan luar biasa tentang bagaimana cara dia memandang makna kehidupan. Dia adalah teman terbaik saat bertukar pikiran.


Sahabatku yang kedua.

Dia adalah ibu perinya kami, ibu peri bagi semua teman-temannya. Ibarat seorang princess yang tidak hanya memiliki kecantikan tapi juga kebaikan dan ketulusan hati. Dialah Putri. Sesuai dengan namanya dia memang seorang princess yang tidak hanya dikaruniai wajah cantik rupawan namun juga kebaikan dan ketulusan hati. Dia adalah orang pertama yang ada ketika temannya mengalami kesusahan, dia tidak akan ragu menitikan air mata ketika salah satu temannya mendapat musibah, dia tidak pernah ragu menyuarakan kebenaran dan melawan kemungkaran.

Sifatnya yang tidak pernah mengecewakan teman, membuatku menjadikan dia sebagai pundak pertama untuk berkeluh kesah.


Sahabat ketiga


Siti Wulandari, sahabatku yang satu ini merupakan traveler sejati sekaligus selebgram yang cukup terkenal. Memiliki jumlah follower yang tidak bisa dikatakan sedikit. Penampilannya selalu fashionable, dia juga ahli dalam bidang fotografi.
Cek saja sendiri akun instagramnya! Hits kan...
Di bandingkan instagramku yang bagaikan upil di tengah Sahara.


Bukankah aku memiliki sahabat-sahabat yang sempurna, mereka juga sangat luar biasa, mereka adalah yang terbaik. Tapi semua itu pudar ketika kami bersama, luntur saat kami berkumpul menjadi satu. Tiba-tiba saja mereka menjadi sosok yang berbeda, sosok yang menyebalkan yang selalu membullyku.

Di balik kerudung syar'inya Riska bisa bertransformasi menjadi gadis jenaka, somplak dan mirip Cak Lontong versi wanita. Dengan banyolan-banyolan cerdasnya yang membuat perut sakit menahan tawa. Sementara Putri, jangan bayangkan dia sebagai princess. Karena percayalah, ketika kami bersama dia akan mengeluarkan kalimat-kalimat sindiran yang akan membuatku malu mengakuinya sebagai teman. Ketika dia mulai buka suara, percayalah! Jangan percaya! (????)

Maksudnya jangan mempercayai apapun yang dikatakan oleh Putri atau kamu akan malu sendiri lalu berharap tidak pernah mengenalnya seumur hidup.

Setali tiga uang dengan Putri, di balik foto-foto cool yang bisa kalian liaht di instagramnya, jangan kaget, jangan heran, jangan terkejut ketika mengetahui sifat aslinya yang gokil dan suka menyindir. Jangan dekat-dekat dengannya jika hatimu tidak kebal menahan sakit akibat kata-katanya yang nyinyir.

Itulah sebabnya mereka semua adalah tiga somplak empat sempurna. Karena mereka tidak akan pernah lengkat jika tidak ada orang keempat. Dan meskipun mereka somplak, tapi bagiku mereka semua sempurna.


Demikianlah artikel gaje yang sebenarnya sudah mengendap cukup lama didraft dan baru tersentuh hari ini, ketika rasanya dunia sudah tidak menarik lagi. Aku hanya bisa berdiam dan menghibur diri.

Selamat malam....

Mencari Angin

Aku berdiri di bawah butiran-butiran bening yang menyerangku. Keroyokan. Sepertinya mereka tak mampu menghadapiku satu persatu. Pengecut. Pecundang kalian. Kalau berani lawan aku dengan tombak petir milik Zeus yang kau pinjam.

Aku masih berdiri menantang hujan.

Basah semua dari ujung kepala sampai ujung kaki. Basah yang mengingatkanku pada rindu. Karena seriap menatap hujan yang terlintas di benakku hanya senyum nakalmu.

Kenapa kamu pergi?

Aku berlari menyusuri hujan berharap menemukan angin yang telah pergi. Jangan pergi kemarau. Tetaplah kering seperti hatiku yang gersang semenjak angin itu berembus untuk yang terakhir kali dengan membisikkan kata selamat tinggal.

Di mana lagi aku bisa mendapatkan orang sepertimu, mencari senyum yang sama nakalnya dan merindu seperti punguk yang selalu menatap bulan dari kejauhan.

Dengan apalagi aku bisa menggantikanmu.

Kalimat itulah yang selalu terkenang semenjak anginku hilang. Seolah hariku hanya dipenuhi hujan dan air mata. Di dalam ada hati yang senantiasa merindunya. Menunggunya jika saja dia menyapa dan kembali dengan kata penyesalan karena telah pergi.

Hingga ketika aku sadar aku hanya berdiri di pinggir hujan. Berada di antara kenangan dan masa depan. Masih berusaha melepaskannya satu persatu, dengan iman aku percaya setiap butiran-butiran hujan mampu membawa kenangan tentang anginku pergi. Ku lepaskan satu persatu hingga genap dan semuanya lenyap di bawah gemericik hujan menuju sungai dan bermuara di pantai. Tempat paling akhir untuk sebuah kenangan dan luka masa lalu.


“Gi, masuk yuk. Designer baju pengantin kita sudah datang,” ujar seorang pria yang di jari manisnya melingkar sebuah cincin yang sama dengan cincin yang ku punya.



Banyuwangi, 30 Maret 2017

Friday

“Di mimpiku kamu terlihat bahagia, aku senang. Dalam mimpiku itu kamu terlihat sibuk mewujudkan karya tanganmu jadi lebih nyata.”

Entah kenapa hari ini aku terbangun dengan sebuah pesan yang ku baca ulang. Setiap kata yang terangkai aku resapi perlahan hingga sadar, aku baru bangun diri mimpi. Ya mimpi, di hari ini meski bukan hari jumat tapi aku teringat tentang janji dan mimpi. Aku tahu meski aku tidak pernah berada di dalam mimpimu di tidur selepas sepertiga malam.

Ah dengan apakah aku harus menyebutmu? Kenangan? Jumat? 911? Atau angin?

Aku benci angin.
Seumur hidup aku berurusan dengan angin. Berembus sekejap lalu hilang selamanya. Yang ditinggalkan hanyalah gersang.
Aku berdoa, semoga kamu bukanlah angin. Tapi angin tetaplah angin. Tidak pernah kembali ke tempat pertama dia berembus.
Entah kamu ingat atau tidak.
Kita telah melewati hari di mana kita ditakdirkan bertemu meski tak pernah terselesaikan. Meski sudah dua periode terlewati tapi rasa ini belum juga menemukan kata sudah.

Semoga kamu mengerti.