Snowy Path

3:00 AM Faranggi Eva Lutvika 9 Comments




Jake berjalan dengan langkah perlahan, dia tahu pasti jika tidak berhati-hati jalan licin akibat tertutup salju bisa membuatnya terjatuh. Angin dingin berembus membuatnya menaikkan kerah parka kulit domba yang dikenakannya. Badai salju kali ini merupakan yang terparah. Mungkin karena tempat ini berjarak begitu dekat dengan Great Salt Lake dan terkenal sebagai daerah dengan musim dingin terparah di Utah.

Malam ini mau tidak mau dia harus keluar, memeriksa truknya dan menutup bak truknya dengan terpal agar terlindung dari salju. Setelah memastikan semuanya aman, dia kembali berjalan sangat hati-hati. Jejak langkahnya di atas salju menghilang tertiup angin malam.

Dingin sekali. Jake berharap Alec sudah menyiapkan coklat panas dan mereka bisa menyaksikan pertandingan rugby di siaran teve lokal.

Tiba-tiba saja terdengar suara isakan seseorang meminta tolong, semakin lama semakin jelas. Jake berhenti dan memeriksa jalan kecil tertutup salju di depannya. Badai tidak memungkinkan Jake hanya mengandalkan penglihatan matanya, dia mengarahkan senter tepat ke arah jalanan sunyi bersalju.

Tidak ada apa-apa. Gumamnya. Namun suara itu muncul lagi dan menjadi semakin jelas. Akhirnya Jake memutuskan untuk pergi memeriksanya. Dia berjalan perlahan di atas tumpukan salju yang licin. Matanya menajam memastikan apa yang didengarnya mungkin hanya deru angin. Karena jalan ini kosong dan sunyi. Bahkan lampu di seberang jalan juga mati.

Ketika Jake merasa semuanya baik-baik saja, dia berbalik dan alangkah terkejut ketika mendapati seorang gadis berdiri bersimbah darah di depannya.

"Astaga. Apa kau baik-baik saja?" tanya Jake dengan cemas.

Gadis itu tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dan badannya terlihat lemas. Jake menduga dia diserang serigala atau hewan buas yang seringkali turun dari gunung saat badai seperti ini.

"Apa kau baik-baik saja?" Jake mendekati gadis itu dan memegang pundaknya.

Namun tiba-tiba gadis itu menengadahkan kepala, wajahnya pucat pasi dan terlihat darah memenuhi mulutnya. Gadis itu bahkan meraih tangan Jake dan mengigitnya hingga berdarah.

Jake berteriak. Meronta. Tapi embusan badai lebih berisik dari suaranya.

Arggghhh... Jake melepaskan gadis itu dari tangannya. Namun terlambat, punggung tangannya telah membentuk luka lebar dan darah mengalir tanpa henti.

Terlihat wajah puas dari gadis itu menyeringai ke arahnya, menunjukkan gigi-gerigi tajam dipenuhi darah segar. Dengan langkah gontai gadis itu mendekati Jake dan melompat ke arahnya.

Jake berlari secepat mungkin, tapi tumpukan salju memperlambat gerakannya. Sementara gadis atau lebih tepatnya monster itu terus mengejarnya dengan gerakan yang lebih cepat dan ringan. Dia berlari menyebrangi jalanan sepi, dan tiba-tiba.

BRAK.

Sebuah truk pengeruk salju menabrak sesuatu. Dan moster itu lenyap.

Seorang pria paruh baya turun dari truk dan menghampirinya.

"Apa kau baik-baik saja?"

Jake masih terpukul. Dia terus memperhatikan ke arah truk pengeruk sampah, memeriksa apakah monster itu masih di sana. Tapi sepertinya mahluk itu telah pergi, mengilang, lenyap atau apalah. Yang jelas tidak ada tanda-tanda keberadaannya.

"Tanganmu terluka," ujar pria itu yang mengira tangan Jake terluka karena tertabrak truknya.

"Tidak. Aku baik-baik saja."

"Serius? Apa kau butuh ke Rumah Sakit?"

"Tidak. Tidak usah aku baik-baik saja."

Pria itu menatap Jake dengan aneh, kemudian meninggalkannya bersama sebuah kartu nama, jika terjadi sesuatu yang serius Jake boleh menghubunginya.
***


Setelah badai semalam, langit terlihat sangat cerah. Jake mengintip dari jendela kamarnya, terlihat Alec sedang membersihkan jalan di depan rumah mereka dari tumpukan salju menggunakan skop.

Pekan depan Alec akan pindah ke apartemen yang lebih dekat dengan tempat kerjanya. Itu artinya tidak akan ada yang membuatkan coklat panas untuknya dan tidak ada yang membersihkan jalanan dari tumpukan salju.

Jake meringis kesakitan. Luka bekas gigitan semalam masih terasa sakit sampai saat ini, meski sudah diobati dan dibalut perban. Dia baru sadar kulit tangannya membiru hingga siku. Astaga mungkinkah dia terkena infeksi. Dan rasa sakit mulai menjalar tidak hanya di tangannya tapi di sekujur tubuhnya.

Tiba-tiba saja tubuhnya menjadi kaku dan membiru, dia merasakan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Terlihat dari pantulan cermin jendela kamarnya, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi. Bola matanya mengecil dan berwarna abu-abu.

Jake juga merasakan nafsu makan yang aneh. Dia membayangkan daging segar yang masih dilumuri darah merah, dengan sedikit timbunan lemak yang lembut.

Tiba-tiba saja dia melihat ke arah Alec yang melambaikan tangan begitu menyadari kehadirannya.

"Aku lapar."



9 comments:

  1. Hiyyy... Si Jake digigit Ghoul dan menjadi Ghoul ya?
    Aih, sotoy banget saya, hahaha...

    ReplyDelete
  2. Cerita kali ini bikin bulun kudu berdiri, sist.

    Karena gigitan moster itu Jake ingin makan daging segar, jangan-jangan ia juga telah menjadi moster.

    ReplyDelete
  3. Jake bakal jadi apa? ghoulkah kayak yang dibilang Inisial A atau jadi manusia serigala? atau vampire atau apa? ditunggu kelanjutannya :D

    ReplyDelete
  4. wah ternyata gadis yang mau di tolong Jake itu seorang monter..,

    monternya jahat dan sadis amat., padahal kedatangan Jake dengan niat baik.,.

    ReplyDelete
  5. aku juga sering membayangkan daging .. :-D

    http://puisidaninspirasi.wordpress.com

    ReplyDelete
  6. Wahh.... Jake menjadi zombie apa vampir nih, setelah digigit gadis yang ia temui di malam itu?

    Wiiiii...... Sereemmmm.....

    ReplyDelete
  7. Ah Jake, sudah tertular virus srigala salju tentu saja dia tdk butuh rumah sakit, tp Jake butuh darah segar seperti gadis itu

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan jejak!