Suami Ibu

4:57 AM Faranggi Eva Lutvika 6 Comments



Hari ini di rumah ramai sekali, hampir semua kerabat yang tinggal di luar kota datang. Pakde Ruslan beserta keluarganya yang bermukim di Jogja baru datang tadi pagi, Bude Titi sudah datang sejak kemarin dari Bandung beserta keluarganya, sedangkan Pakle Wardi yang tinggal di Padang yang belum datang, katanya masih dalam perjalanan.

Hari ini semua orang sibuk tak terkecuali aku yang dari tadi dipusingkan oleh Romi, Rizki dan Rizman, putra Mbak Rini, sepupuku yang merupakan puteri dari Pakde Ruslan. Ketiganya masih berusia antara 3, 4, 6 tahun, berlarian sepanjang rumah dan makan kue lalu sisanya di buang sembarang di sekeliling rumah. Jadilah aku yang harus membersihkan bekas kue Romi, Rizki dan Rizman.

Ketika aku hendak membuang sampah, Bude Titi memanggilku dari balik pintu kamar Ibu.

“Ajeng, masuk dulu! Dipanggil Ibumu,” seru Bude Titi.

Kamar Ibu terlihat indah dengan korden putih tulang yang menghiasiasi tiap sudut kamar dan tempat tidurnya, Ibu sendiri duduk menghadap cermin di temani Adis, adik bungsuku.

“Sini Nduk! ” Seru Ibu begitu melihat bayanganku dari cermin. Ibu yang biasanya tampil sederhana dan bersahaja, kali ini terlihat begitu cantik dengan kerudung putih yang senada dengan kebayanya dan riasan wajah yang semakin memancarkan aura kecantikannya.


Beberapa waktu lalu seperti petir di siang hari aku dikejutkan dengan pernyataan Ibu yang ingin menikah lagi. Usiaku sudah menginjak hampir seperempat abad, apa kata orang nanti jika Ibu menikah lagi. Empat belas tahun semenjak kepergian Bapak, Ibu membesarkan aku dan Adis sendirian dengan jatuh bangun membuka. warung makan yang beberapa kali nyaris tutup karena kehabisan modal.

“Tidak.”

Dengan tegas tentu aku menolak keinginan Ibu untuk menikah lagi, aku tidak mau keluargaku malu dan jadi perbincangan para tetangga hanya karena Ibuku menikah lagi diusia yang sudah menginjak kepala empat. Saat itu tanpa memperhatikan perasaan Ibu aku tetap bersikeras menolak, hingga Ibu mengurungkan niatnya, namun hal ini justru menjadi pukulan berat baginya dan membuatku merasa bersalah. Sejak penolakanku, Ibu lebih terlihat murung. Senyum yang biasa menghiasi wajahnya seolah pudar tersapu oleh kerasnya sikapku.

Empat belas tahun Ibu setia dengan mendiang Bapak, empat belas tahun tak pernah Ibu melupakan apalagi menggantikan mendiang Bapak dengan orang lain, namun kenapa tiba tiba terbersit niat untuk menikah lagi? Kenapa setelah begitu lama barulah muncul ide gila seperti ini? Membuatku penasaran dan bertanya-tanya siapa orang yang mampu menggoyahkan kesetiaan dan cinta Ibu terhadap mendiang Bapak.

“Namanya Adi Sudarman, perwira angkatan laut yang sudah pensiun dua tahun lalu,” ujar Adis. Adik bungsunku ini memang lebih dekat dengan Ibu dibanding aku. Dia sering sekali curhat pada Ibu dan sebaliknya, itu sebabnya dia lebih tahu tentang Ibu dibanding aku.

“Bagaimana Ibu bisa mengenalnya?” tanyaku lagi.

“Pakle Wardi.”

Aku baru ingat, Pakle Wardi juga seorang perwira angkatan laut. Dari beliau lah Ibu mengenal pria itu. Adis bilang mereka sudah saling mengenal sejak setahun lalu dengan perantara Pakle Wardi. Pria itu memang sedang mencari wanita untuk di peristri, setelah istrinya meninggal akibat kanker rahim dua tahun silam. Pria itu tidak memiliki keturunan hingga akhirnya tanpa bermaksud mengabaikan kesetiaannya pada mendiang istri, dia bermaksud menikah lagi agar garis keturunannya tidak terputus.

“Kenapa tidak ada yang menceritakan ini padaku?” tanyaku sedikit geram.

“Bude Titi bilang lebih baik merahasiakan ini dulu dari Mbak Ajeng supaya nanti setelah semuanya sudah pasti baru Mbak Ajeng kita kasih tau,” Jelas Adis lagi.

Ternyata selama ini hanya dia yang tidak diberitahu, selama ini hanya dia yang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Tentu Bude Titi akan merahasiakan ini dariku, karena tahu betul watak dan sifatku. Jika memberitahu dari awal. Aku juga pasti akan menolak dan semuanya batal. Sekarang tinggal rumit dan semua beban di tampukan padaku.

“Ikhlaskan Ibu menikah lagi, Mbak. Memangnya Mbak mau lihat Ibu di hari tuanya nanti sendiri tidak ada yang menemani. Karena tentu setelah kita menikah, kita akan ikut suami kita masing-masing. Anggap saja ini hadiah atas kerja keras Ibu merawat kita selama empat belas tahun ini,” ujar Adis panjang lebar. Kadang dia memang sanggup berpikir lebih dewasa dariku, padahal usianya baru menginjak tujuh belas tahun.

“Entahlah, Dek. Mbak bingung,” jawabku sembari bersandar di kursi dengan kedua. tangan mendekap dada dengan erat.


“Aku mau bertemu dengan pria bernama Adi Sudarman itu,” kataku. Di suatu sore saat Ibu duduk melamun di teras rumah. Seketika rona wajahnya berubah.

“Tapi bukan berarti aku akan setuju,” tambahku dengan nada dibuat dingin dan berusaha agar tetap terlihat angkuh. Tapi walau begitu aku senang dapat melihat senyum kembali terukir diwajah Ibu.


“Nama saya Adi Sudarman,” seorang pria paruh baya berperawakan tinggi, gagah dan berwibawa, tak heran karena beliau adalah mantan perwira. Memperkenalkan diri dan menyodorkan tangan kanannya kearahku.

“Sekalipun ketika nanti anda sudah resmi menjadi suami Ibu ku, aku tetap tidak bisa memanggil anda dengan sebutan Ayah,” kataku tetap berlagak angkuh sembari menjabat tangannya.

“Tidak apa-apa, kamu bisa panggil saya Om kok,” ujar pria itu sambil tersenyum ramah. Hingga tidak ada alasan lagi bagiku untuk menolaknya meminang Ibu.

Seperti dugaan Bude Titi, sekalipun dinding keangkuhanku kokoh bak karang yang sanggup menahan gelombang, tapi jika gelombangnya itu adalah Ibu, pada akhirnya runtuh juga tembok pertahananku.

***



Tak terasa saking larutnya aku tidak tahu bahwa Ibu sudah selesaidi rias dan sepertinya rombongan mempelai pria juga sudah datang. Bude Titi memintaku mengambil minum untuk rombongan mempelai pria selagi menunggu Ibu keluar dan melakukan ijab.

Om Adi sudarman terlihat gagah dengan mengenakan setelan jas tanpa dasi dan peci berwarnah hitam, sekalipun sudah lanjut usia garis ketampanannya masih belum pudar termakan senja. Duduk bersila diatas karpet hijau bersama Pakde Ruslan, beberapa sanak saudara dan juga rombongannya.
Sekilas aku seperti pernah melihat wajah pria muda yang duduk di sebelah Om Adi. Wajahnya tidak asing lagi bagiku. Tapi siapa dia? Dimana aku pernah bertemu dengannya?

Dua hari lalu Mas Hadi editor Koran terbitan lokal tempat ku bekerja, menunjukan sebuah foto seorang pria padaku. Dia bilang pria itu adalah tersangka utama sindikat penculikan anak yang marak terjadi beberapa bulan belakangan di kota ini. Dan pria tersebut sekarang menjadi buronan polisi setempat, itu sebabnya fotonya dipasang di halaman utama Koran yang diterbitkan pagi ini sebagai buronan dan meminta masyarakat untuk lebih waspada dan apabila pernah melihat wajahnya ataupun mengetahui keberadaannya diminta untuk menghubungi polisi setempat.

PRANGGG.

Dengan susah payah menjaga keseimbangan baki yang diatasnya masih terdapat enam gelas lagi terjatuh dilantai. Begitu mengetahui Om Adi memperkenalkan pria tersebut sebagai keponakannya.

“Ya Rabb, apa yang harus aku lakukan?”



6 comments:

  1. Sungguh kisah yang sangat menyentuh.
    sebagai seseorang yang telah di
    tinggal pasangannya, pasti ibu itu di hadapkan dengan dua pilihan sangat susah, antara menjaga kesetiaan pada suami pertama, atau menikah lagi, sehingga di masa tuanya ada yang mendampingi, karena seperti yang di katakan Adis, anak mngkin setelah berkeluarga akan meninggalkan ortunya.

    ReplyDelete
  2. Ibu ini luar biasa sekali bisa bertahan hidup sendiri membesarkan ke-dua anaknya sendirian setelah ditinggal suaminya pergi. Kesetiannya ini bisa dijadikan teladan, karena kebanyakan orang jika ditinggal suami atau istri belum 100 hari sudah bingung cari pasangan baru.

    ReplyDelete
  3. Tak salah cinta kembali tumbuh diusia senja, tapi ...
    Apa yang harus dilakukan bila ternyata suami ibu seorang buronan polisi
    Lakukan sebagai Warga Negara yang baik atau diam saja?
    Dilema ah!

    ReplyDelete
  4. Menjadi single parent tidak semudah yang terlihat. Apalagi jika sudah memiliki anak. Satu sisi dia harus kuat untuk dirinya sendiri, dan satu sisi dia pun harus berdiri untuk anaknya. Tentunya… setiap perjalanan yang dilalui akan semakin penuh tantangan dan juga godaan.

    ReplyDelete
  5. Nanggung nih. Bagaimana kisah selanjutnya dengan sikap Ajeng ketika mengetahui pemuda buronan polisi itu?

    ReplyDelete
  6. Nah bagaimana mengenai pria muda sang buronan itu??

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan jejak!