Beauty And The Beast

9:25 AM Faranggi Eva Lutvika 18 Comments

Kisah yang sudah setua waktu, berputar kembali.


Tersenyum. Tertawa. Mengingat masa lalu membuatku ingin menceritakan pada kalian. Sebuah kisahku dan dia.


Jadi begini, kisah dimulai saat aku bertemu dengannya di depan toko permen. Dia memegang dua permen lolipop. Permen itu gonta-ganti menjamah lidahnya. Tampak cairan hijau mengalir keluar dari dua lubang hidungnya. Ingus. Dan aku bisa melihat, tidak sengaja ia menjilat ingusnya sendiri.


Pasti rasanya ... asin-manis.


Aku melihat dia sudah terlebih dahulu merasa ilfil. Lelaki itu mendapat nilai negatif dariku.


Jorok!


Dan ...


Ada tanda lahir besar di pipinya. Gigi ompong. Berkacamata. Rambut belah tengah.


Dia jelek.


Sangat jelek.


"Hai cantikk."


Dia menyapaku? Menyapaku?


"Hai ...," ketakutan.


"Ini untukmu," dia menyerahkan satu lolipopnya padaku.


Aku menerimanya dengan ragu. Hanya berusaha bersikap sopan  dengan menghargai pemberian orang.


"Mau nggak jadi pacarku?" tidak ku sangka-sangka di mengeluarkan sekuntum mawar merah dari balik tubuhnya.


Mata ini membulat. Dan bibir pun melongo membentuk huruf 'O'.


"Hey! Umur kita masih 7 tahun."


Setiap mengingat kisah tua itu, aku selalu ingin tertawa. Pertemuan pertama yang menggelikan. Seenaknya menyatakan perasaan pada orang. Padahal kita sama sekali belum mengenal.


Dan ... namaku bukanlah cantik.


Tapi dia mengatakan kalau aku cantik. Itu sebabnya dia menyatakan cinta padaku.


Kulihat dia tertawa. Hanya sedikit perubahan dari caranya tertawa. Yakni bertambahnya lesung kecil di dagu.


Kisah itu entah kenapa terputar kembali dalam benakku. Serampangan aku menceritakan pada dia "si penjilat ingus"


Dia tertawa lagi, kemudian memparodikan caranya menjilat ingus. Kali ini aku tak merasa jijik, sedikit ilfil memang. Namun lucu saja melihatnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku 10 tahun lalu," ucapnya, berhenti dari candanya.


"Pertanyaan yang mana?" tentu saja aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Tapi aku merasa tak ingin membalasnya.
Terlalu picik memang, mengingat sejujurnya aku kurang menyukai penampilanya saat ini maupun 10 tahun yang lalu.


"Kalau kamu liat ini, pasti kamu ingat," ucapnya dengan merogoh tas selempangnya.


Permen lolipop.


Lalu cerita tua itu seolah kembali terulang ketika dia membuka bungkus lolipopnya dan mulai menjilati setiap inci lempengan kecil berwarna pelangi. Namun kali ini tanpa ingus seperti kisah tua itu.


Reaksikupun berbeda sudah tidak memandangnya dengan perasaan jijik aku justru tertawa melihat tingkahnya.


Kami sama sekali bukan teman, hanya kebetulan bertemu tanpa diduga-duga. Memulai kembali kisah lama. Meskipun harus ku katakan, dia tidak setampan pangeran dalam kisah dongeng yang sering ku baca. Datang tanpa kuda putih dan keretanya.


Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa kehadirannya menghidupkanku kembali, memberi setitik cahaya seperti lilin-lilin kecil di tengah goa yang mulai menghampa.


Kehadirannya mengisi salah satu ruang kosong di hatiku, tapi yang aku tahu bukanlah dia si buruk rupa. Melainkan aku.


"Bella... Waktunya minum obat," Ibuku muncul dari belakang.


Sebelum menarik kursi roda yang kini berperan menggantikan kedua kakiku yang hilang, Ibu melihat ke arah pria itu. Melemparkan senyum lalu membawaku masuk ke dalam rumah.


Akankah dia mampu menerimaku?


18 comments:

  1. Jika sudah takdir dan jodoh apapun keadaanmu pasti ia akan menerimamu dengan iklas. Percaya deh.

    ReplyDelete
  2. Sebentar-sebentar, umur 7 tahun sudah bisa mengatakan cinta. Sebentar-sebentar ,aku salah membaca atau salah memahami.
    Sebentar-sebentar.... aku mau menjernihkan isi kepalaku dulu.

    ReplyDelete
  3. Seberapa lama berpisah, kalau jodoh, pasti ketemu lagi.. ;)

    ReplyDelete
  4. tidak tampan tapi kehadirannya mampu menjadi lilin
    keren deh

    ReplyDelete
  5. Wah, paragraf akhirnya ngak kusangka Mbak...

    ReplyDelete
  6. Akhirnya bisa happy ending apa nggak ya mbak hehe, bisa bertemu kembali setelah lama berpisah itu bisa keren ya mbak duh hmm ikutan baper

    ReplyDelete
  7. Emmhh nikmatin aja deh ending nya, padahal lagi seru bacanya

    ReplyDelete
  8. sebanyak apapun halangan, kalo udah jodoh pasti akan dipersatukan

    ReplyDelete
  9. Cerita yang menarik, patutu di jadika contoh, cinta itu memang buta (Love is blind)

    ReplyDelete
  10. Waaaa menyentuh hati sekali

    -M.
    http://www.inklocita.com/2017/04/beli-jr-pass.html?m=1

    ReplyDelete
  11. eh tapi gatau kenapa aku lebih suka Cinderella 2015 dibanding beauty and the beast padahal pas kecil nonton film kartunnya yang 1992 bagus. hehehehhe

    ReplyDelete
  12. jhahah saat kecil rasanya plong gitu nyatain cinta tp sekarang pas udah gak anak anak lagi malah malu.

    ReplyDelete
  13. Cinta yang sebenarnya tak mengenal wujud.

    ReplyDelete
  14. mungkin,,,, atau tunggu rahasia tuhan

    ReplyDelete
  15. Cerita menyentuh...
    Bikin baper ini mah. :(

    Tapi aku suka ama kata-katanya.
    Maknanya dalam.

    ReplyDelete
  16. He..he..
    Tenang.. Kalau sudah jodoh pasti bertemu..
    Kenangan masa kecil memang yang terbaik..

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan jejak!