Anak Langit

3:55 AM Faranggi Eva Lutvika 19 Comments




Baru saja piring terakhir dia letakkan di meja kayu samping tempat dia berjongkok menghadap seember penuh air bercampur busa. Setumpuk piring kotor mampir lagi.

Dia menggulung lengan kemejanya lebih tinggi agar tidak basah terkena cipratan air bekas cucian. Peluh tak terasa menetes membasahi dahi hingga mengalir turun ke dagu. Refleks dia mengusap wajahnya yang meninggalkan bekas busa.

Entah apa yang akan dikatakan Ibu jika melihatnya saat ini.

"Sarjana kok kerja jadi tukang cuci piring," mungkin itu yang akan beliau katakan.

Sejak kecil dia diajarkan untuk bermimpi. Bermimpi setinggi langit dan terbang hingga lupa batas dan tempat kaki berpijak. Sejak kecil dia terbiasa hidup dengan meminta. Meminta apa saja dan bakal cemberut hingga mogok makan jika keinginannya tidak terpenuhi.

Seperti ketika dia merajuk meminta sepatu baru, padahal yang lama masih layak. Tapi karena melihat salah satu temannya dibelikan sepatu baru, tidak ada salahnya jika dia juga meminta.

"Sabar yo, Le. Bapak masih belum dapat uang. Besok kalau uangnya sudah ada pasti Bapak belikan," rayu Bapaknya yang baru saja pulang kerja, masih dengan peluh dan aroma matahari, apek yang membuatnya dulu enggan mendekat.

"Bapak bau," begitu dulu katanya.




"Ini upah kamu hari ini."

Dia menerima uang dua lembar lima ribuan dan beberapa lembar uang dua ribu dengan perasaan tidak percaya.

"Terimakasih Bu, terimakasih," ucapnya sambil menunduk-nunduk beberapa kali sebelum meninggalkan rumah makan padang dan berjanji besok akan datang lagi.

Meski tidak seberapa jumlahnya, namun uang tersebut adalah hasil kerja kerasnya, hasil keringat pertama kali. Dan baru dia mengerti ternyata sesusah ini mencari uang.

Dia pikir dengan berbekal gelar sarjana S1 dia akan mudah mendapat kerja, menjadi sukses dan kaya raya. Tapi ternyata mimpinya tak semudah yang dia bayangkan.

"Ternyata mencari uang tidak gampang," bisiknya lirih.

Dia melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain layangan di trotoar. Dia kembali teringat masa kecilnya.




"Usum... Usum layangan. Bola di gelas dienggo bendetan. Aran ganjur dowo-dowoan. Sangkrahe carang wit witan."

Begitu dulu Bapaknya suka bernyanyi sambil merangkai bambu menjadi sebuah layangan.

"Bintang, kamu harus punya mimpi setinggi langit. Tapi sebelumnya kamu harus menjadi seperti layangan ini, seimbang agar bisa terbang," ujar Bapaknya sambil menimbang sebilah bambu dengan sebuah benang sebelum merangkainya menjadi layang-layang.

Dulu dia tidak mengerti maksud dari perkataan Bapak. Yang dia tahu, layang-layang tidak bisa terbang sendiri. Butuh seseorang untuk menerbangkannya, memegangi benang agar tetap melayang di angkasa. Dia ibaratkan Bapak sebagai benang yang diulur dan ditarik, kapan dia akan meninggi tergantung seberapa panjang benang mampu teruraikan.

Itu sebabnya setiap hari yang dia lakukan adalah menarik benang dengan asumsi dia akan terbang tinggi. Dia meminta uang atau apa saja dengan gampang tanpa peduli peluh yang diderita Bapak untuk memenuhi semua keinginannya. Itu pun masih sering merajuk dan menjuluki Bapak payah dan tidak berguna.

Kini baru dia sadar, mencari uang tidak semudah seperti yang dia pikirkan. Jangankan untuk lulusan S1 sepertinya. Lantas bagaimana dengan Bapak yang selama ini dia jadikan ATM berjalan.

Atau benang yang dengan sesuka hati dia tarik sepanjang yang dia mau setinggi yang dia impikan. Sehingga ketika sadar benang itu telah terurai habis dan layang-layang tak mampu lagi terbang. Di mana layang-layang itu akan tersangkut?

Tak ubah seperti layang-layang terbang tak tentu arah, kini bahkan dia tersesat dan melupakan nasihat Bapak tentang keseimbangan. Bukan hanya tentang benang. Untuk terbang tinggi kamu butuh keseimbangan untuk bisa terbang, begitu kata Bapak.

Sekarang dia mengerti apa yang dimaksud Bapak. Tentang keseimbangan. Untuk terbang tinggi dia butuh dirinya sendiri. Keseimbangan antara kekuatan, usaha dan doa. Dia harusnya terbang untuk melihat ada begitu banyak yang mendukungnya dan bahagia melihat dia berada di posisi tertinggi. Bukan menjadi anak langit yang lupa bumi tempatnya berpijak lantas dengan seenak jidat mengulur dan menarik benang hingga titik penghabisan.

Kini dia mengerti, betapa susahnya bekerja mencari uang untuk memenuhi hidupnya. Lalu bagaimana dengan Bapak yang selalu dihardik untuk meminta.

Kini baru dia mengerti.


19 comments:

  1. Dalam hidup ini memang diperlukan keseimbangan. Baik dari gerak fisik maupun pikiran harus seimbang. Uang hanyalah efek saja dari hasil bertukar keringat.

    ReplyDelete
  2. Anak setelah dewasa atau berkeluarga, akan merasakan betapa beratnya menjadi orang tua. Yang harus menafkahi keluarga.
    Tapi hidup memang penuh perjuangan dan begitu kerasnya.
    Masih untung menjadi tukang cuci piring, dulu aku menjadi ofice boy, demi untuk makan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan ini emang buat pengingat diri sendiri, tp bagus juga kalau bisa jadi pengingat generasi muda lainnya. Biar kita tau tentanng susahnya hidup.

      Delete
  3. sedih,rasanya membaca cerita ini. jadi refleki diri sendiri ini mbak. walaupun ud ngerti sekarang. entah kenapa membaca pos ini. kayaknya ngena banget sama mas :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya bener mas emang bisa buat refleksi diri sendiri dan ngingetin tentang susahnya hidup dan berbakti sama orang tua yang sudah kerja keras buuat kita.

      Delete
  4. Ketika kita menginjak dewasa dan mengerti artinya betapa susah mencari uang di situ baru tersadar akan apa yang pernah diminta ke ortu kala itu.

    Nice story.

    ReplyDelete
  5. Jleb banget bacana Mbak. Memang kala besar barulah mengertihal2 seperti itu. Pelajaran buat kita juga nggak selalu harus memenuhi permintaan anak2 yg kadang di luar logika

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah bener tuh mbak. Jadi saat kita jadi orang tua nanti kita bisa lebih bijak untuk memperlakukan anak. Karena tidak semua keinginan bisa diberikan. Mungkin mbak lebih paham...

      Delete
  6. Eemhh anak langit :)
    Kasian ya..
    Kecilnya enak bahagya kehidupanya seakan sempurna tapi begitu sedihnya ternyata kehidupan masa tua nya sengsara

    ReplyDelete
  7. Kasih seorang ayah tidaklah terhingga,...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar. Jadi kita harus senantiasa ingat.

      Delete
  8. ngena bgt mbak ceritanya, dan memang realita nya seperti itu..ketika saya mulai merantau, saya jadi tau susah nya cari uang gimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jg pernah merantau mbak meskipun cuma beberapa bulan saat harus pkl semasa sma. Tapi memang beratnya jauh dari orang tua berasa saat itu mbak. Dan akhirnya jadi inspirasi untuk tulisan ini.

      Delete
  9. Tapi aku juga masih muda lo. Baru lulusan kemarin.

    ReplyDelete
  10. Hy mbak Anggiiii. Ceritanya best mbak! Ngena banget. 👍👍👍

    ReplyDelete
  11. Wah, tulisannya bagus, mbk. Aku suka. Berasa baca bagian dr novel. Pemaparan ceritanya suka. Bagus.

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan jejak!