Saturday, March 25, 2017

Cause My World Is Full With You

Ini merupakan cerpen kolaborasi dari penulis hebat dan terkenal sejagad hmmm sejagad apa ya? Ya pokoknya terkenal lah. Tergabung dalam kelompok menulis yang bernama #BloggerMuda. Sebuah grup yang isinya cuma bertiga. Eksklusif hanya untuk tiga orang saja. Lagian siapa juga yang mau gabung ya?!!!

Terimalah persembahan dari kami bertiga. Aku yang paling unyu sendiri.



Karya: Anggi, Ainuen, Endach


Seorang lelaki memberikan sejumlah uang pada pedagang. Ia mengambil barang yang baru saja dibelinya. Kemudian menenteng barang tersebut dengan senyum bersinar bahagia.

Ponsel di saku celana bergetar. Lelaki itu mengambilnya, kemudian membaca pesan yang tertera di sana.

"Awas!! Jangan selingkuh!"

Itu adalah kekasihnya. Lelaki tersebut tersenyum makin bahagia.

Jauh di sana, kekasih lelaki itu sedang mencari ilmu. Tepatnya pada negeri orang. Jarak terbentang amat jauh. Sungguh menyiksa masing-masing hati.
Selain menyiksa, jarak itu sedang menguji kesetiaan mereka.

"Jangan lirik wanita lain!!"
Satu pesan baru masuk.

Lelaki itu melirik sekitar  kerumunan pasar. Banyak wanita di sana. Tapi ... anehnya, kenapa semua wanita berwajah sama dengan gadisnya?

Tak luput dari pandanganya lelaki-lelaki di pasar itu pun memiliki wajah yang begitu serupa denganya.

Lalu bagaimana ia dan kekasihnya bisa menjalin hubungan jika wanita dan lelakinya memiliki wajah yang serupa?

Ah.. jangan tanyakan itu padanya. Karena ia tak punya jawabanya. Tapi yang pasti ia begitu mencintai sifat posesif wanitanya.

Posesif. Benar. Ponsel yang masih di pegang lelaki itu bergetar lagi. Kekasihnya.

"Jangan selingkuh!"

Lelaki itu tertawa, memandang sekeliling lagi. Wanita-wanita itu memang memiliki wajah yang serupa dengan kekasihnya. Tapi tidak memberikan perasaan yang serupa seperti yang bisa kekasihnya lakukan.

Dipandangnya gelang couple berwarna hijau ditanganya.

Lelaki itu tertawa lagi mengingat pesan yang dikirimkan gadisnya.

Kemudian dia melanjutkan perjalanan. Melewati jalanan becek dan gang sempit di antara lapak pedagang. Bau sayur, ayam dan amisnya ikan tidak mengganggu penciuman. Ia bahagia menenteng sekantung penuh belanjaan yang siap ia bawa pulang.

Begitu keluar dari pasar, ia melambaikan tangan ke arah angkot untuk kemudian masuk ke dalam, duduk di kursi depan sebelah pak supir. Dia mengamati jalanan yang mulai ramai. Berbanding terbalik dengan keadaan saat pagi tadi dia berangkat ke pasar.

Lamat-lamat matanya tenggelam dalam aspal yang tergilas roda besar, berputar untuk mengantarnya ke tempat yang ia mau. Hingga akhirnya si supir memberi isyarat ia sudah sampai di tempat.

Lelaki itu turun dari angkot dan berjalan ke arah rumah berwarna biru. Dengan pagar setinggi tidak lebih dari pinggang, ia menggesernya perlahan lalu masuk ke dalam.

"Sayang... Kok lama banget sih," seru seorang wanita yang berdiri manja di ambang pintu.

Monday, March 20, 2017

Friday

“Di mimpiku kamu terlihat bahagia, aku senang. Dalam mimpiku itu kamu terlihat sibuk mewujudkan karya tanganmu jadi lebih nyata.”

Entah kenapa hari ini aku terbangun dengan sebuah pesan yang ku baca ulang. Setiap kata yang terangkai aku resapi perlahan hingga sadar, aku baru bangun diri mimpi. Ya mimpi, di hari ini meski bukan hari jumat tapi aku teringat tentang janji dan mimpi. Aku tahu meski aku tidak pernah berada di dalam mimpimu di tidur selepas sepertiga malam.
Ah dengan apakah aku harus menyebutmu? Kenangan? Jumat? 911? Atau angin?

Aku benci angin.
Seumur hidup aku berurusan dengan angin. Berembus sekejap lalu hilang selamanya. Yang ditinggalkan hanyalah gersang.
Aku berdoa, semoga kamu bukanlah angin. Tapi angin tetaplah angin. Tidak pernah kembali ke tempat pertama dia berembus.
Entah kamu ingat atau tidak.
Kita telah meliwati hari dimana kita ditakdirkan bertemu meski tak pernah terselesaikan. Meski sudah dua periode terlewati tapi rasa ini belum juga menemukan kata sudah.

Semoga kamu mengerti.

Sunday, March 19, 2017

The Clan Of The Dragon (Chapter 1)

Pemuda itu di seret menuju garis pantai Lindisfarne, usianya yang masih belasan membuatnya tidak mampu mengalahkan otot-otot kekar yang menariknya untuk kemudian mengikat kaki dan tangannya lalu melemparkannya ke bibir pantai.

Beberapa kali pemuda itu berteriak meminta tolong, namun tidak ada yang berani mendekat, mata-mata itu bersembunyi dibalik jendela dan pintu yang ditutup rapat. Sementara Mr. Smith yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pemuda tersebut hanya bisa berusaha mengenyahkan rasa iba. Ketika dia harus melihat mata pemuda itu menangis memohon ampun.

Tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan hal ini terjadi, mereka bertranformasi menjadi algojo dalam semalam dan keesokan harinya kembali menjadi nelayan.

"Lakukanlah!" Mr. Smith memberikan sebilah belati yang telah diasahnya siang tadi kepada Phillip. Dia merasa tidak akan sanggup melakukannya dengan tangannya sendiri.

Phillip menerima belati dari Mr. Smith, tangannya bergetar. Dia menoleh ke arah pemuda yang tergeletak di tanah dengan tangan dan kaki terikat. Pemuda itu memejamkan mata, berharap Phillip melakukan tugasnya dengan cepat dan tanpa rasa sakit.

Phillip berjalan ke arah pemuda itu kemudian berjongkok di depannya. Dia mengacungkann belati bersiap menusuknya lalu merobek lehernya, untuk membuat pemuda itu mati kehabisan darah untuk kemudian melemparkannya ke tengah lautan sebagai tumbal.
Namun tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arah Phillip dan menjatuhkan belati dari tangannya.

Sesosok pria berdiri di antara kegelapan dengan mengangkat busur dan membidiknya ke arah Phillip.

"Lepaskan pemuda itu! Kali ini dia tidak akan membiarkan anak panahnya meleset lagi," seorang pria keluar dari balik kegelapan diikuti dua pria lain. Dengan pakaian serba hitam yang membuat mereka nyaris menyatu dengan kegelapan.

"Klan Naga," bisik Mr. Smith, "Ku kira mereka hanya legenda. Mr Smith yakin anak panah pria itu bukannya meleset tapi sengaja membidik belati yang ada di tangan Philip.

Tanpa diduga Phillip kembali mengambil belati yang terjatuh di tanah dan nyaris menusukannya ke leher pemuda itu, gerakannya terhenti ketika anak panah kali ini melesat tepat mengenai lenganya. Phillip berteriak, terjatuh dan menggeliat di tanah.

Beberapa detik kemudian sebuah mata pedang tepat berada di depan leher Phillip.

"Kau tidak akan mengerti, aku tidak peduli sekalipun kau adalah Klan Naga. Tapi kami harus tetap hidup, desa ini harus tetap hidup," Phillip berteriak sambil menahan sakitnya, suaranya bergetar menambah kengerian malam.

"Apa harus dengan cara mengorbankan seseorang? Kami ada di sini, kami akan membantu menyelesaikan masalah kalian."
"Kami memiliki masalah besar," sahut Mr. Smith.
"Aku adalah Elston Hall, dia Flint Campbell," menunjuk pria yang memegang busur panah, "mereka mereka adalah Tory Cromwell dan Haley Giffin. Kami akan membantu kalian," pria yang ternyata bernama Elston Hall itu menurunkan pedangnya dan melepaskan ikatan pada tangan dan kaki pemuda itu.

"Terima kasih," ujar pemuda itu dengan suara tertahan dan ketakutan.

"Siapa namau, Nak?"

"Will."

Elston menarik tubuh Will untuk bangkit dan menyuruhnya pergi, kembali ke desa.

Sementara Elston berjongkok di depan Phillip yang terluka cukup parah di bagian lengan kirinya.

"Kau tidak apa-apa?"

"Kau telah membuat Shoney marah," bisik Phillip.

Friday, March 3, 2017

Kuliner Seru Bareng Asus ZenFone 2





Assalamualaikum. Sudah lama nih, nggak posting di blog. Mungkin ada yang kangen sama Anggi yang selalu semangat? Kalau nggak ada ya sudah aku pulang aja. Mau selfie-selfie lagi pake Asus ZenFone 2. Oh… jadi sekarang nggak pernah nongol gara-gara sibuk selfie? Ya iya dong, gimana nggak. Dengan kamera 13 megapixel yang mampu menghasilkan tangkapan gambar berkualitas, termasuk dalam kondisi low light. Jadi nggak heran kan kalau sekarang aku lagi hobi jepret sana jepret sini. Padahal nggak ngerti soal fotografi, tapi aku yang memang hobi berwisata kuliner sepertinya kurang lengkap kalau nggak ditemenin sama Asus ZenFone 2.

Yah, meskipun nggak jago seperti Om Djangkaru Bumi tapi berkat PixelMaster Camera hasil fotonya nggak kalah keren loh. Salah satu yang paling menarik apalagi kalau bukan fitur High Dynamic Range atau yang biasa dikenal dengan HDR yang bertujuan menangkap rentang tone selebar mungkin dalam situasi kontras tinggi dan highlights hingga shadow. Nah kalau mau selfie pakai Asus ZenFone 2 ini nggak perlu ribet, dengan design lengkung yang memiliki control intuitif dengan tombol belakang yang berfungsi memotret selfie dan mengatur volume. Jadi nggak ribet kalau mau selfie pengang hapenya pake tangan kanan atau kiri. Gimana nggak selfie mulu ya, kerjaannya kalau begini. Termasuk saat ketemu sama kuliner unik. Seperti yang satu ini.



Mi Nyonyor

Mi Nyonyor level berapa ini ya, lupa. pokoknya nuendang badai.

Buat yang suka pedas, wajib kudu harus coba kuliner satu ini. Terutama bagi kamu kamu pecinta mi seperti aku. Mi Nyonyor, kenapa sih dikasih nama Mi Nyonyor? Kalau dalam Bahasa Inggris *PLETAKK (Bahasa Jawa) Nyonyor itu berarti dower. Apa sih, artinya dower? Oh my God aku nggak bisa mendeskripsikan arti nyonyor yang sebenarnya. Ya, pokoknya setelah kalian makan Mi ini bibir kalian bakal merasa terbakar dan nyonyor kaya di iklan minuman Jepang itu tuh.

Mi Nyonyor level 3 pesanan Riska, Mi Ramen level 0 pesanan Dessy dan Mi Ramen susu pesananku

Mi Nyonyor ini sebenarnya bukan kuliner khas Banyuwangi sih, karena Mi ini cabangnya sudah tersebar di beberapa Kota di Indonesia. Di Banyuwangi sendiri pun memiliki banyak cabang. Yang paling dekat dari rumah sih, berada di jalan Candian dekat dengan Stasiun Kota Rogojampi.
 
Kamu bisa mencoba Mi dengan level kepedasan yang cocok untukmu. Dari level 1 sampai 10. Yang nggak suka pedes dan mau cobain juga bisa kok, disediakan level 0 buat kamu yang mau nyonyor. Selain Mi Nyonyor dan Mi Nyonyor lada hitam ada juga ramen yang juga bisa disesuaikan level pedasnya.

 Mi Ramen

Nggak cuma sedap, tempatnya pun asyik buat nongkrong. Ada wallpaper menarik yang bisa dijadikan background saat selfie pake Asus ZenFone 2. Bukan cuma makan tapi eksis juga nggak boleh lupa.

 Sebelum pesanan datang, yuk selfie dulu bersama Riska dan Dessy pakai Asus Zenfone 2.

Sego Cawuk

 Nasi cawuk Mak Mantih yang melegenda.

Nah, kalau yang ini khasnya Banyuwangi. Kalau kamu mampir ke Banyuwangi nggak afdol kalau belum nyobain Sego Cawuk atau Nasi Cawuk. Yang paling terkenal itu ada di depan Stasiun Rogojampi. Namanya Nasi Cawuk Mak Mantih. Jangan lihat tempatnya yang sederhana ya, meski cuma jualan di pinggir jalan dan pake tenda sederhana tapi Nasi Cawuk Mak Mantih ini sudah melegenda loh. Soalnya sudah ada sejak Ibu ku masih sekolah SMP.



Mak Mantih ini kira-kira usianya udah berapa ya?

Nasi Cawuk adalah nasi yang disiram dengan kuah pecel. Pecel di sini beda sama pecel kacang ya. Pecel di sini ini terdiri dari campuran timun, jagung, parutan kelapa dan santan. Setelah itu dicampur dengan ikan pindang kuah. Untuk lauknya kita bisa memilih sesuai selera. Ada ikan pepes, pepes cumi, telur, ayam goreng, ikan goreng. Hmmm hauce ping ping ping ya.

 Nasi Cawuk. hmmm yummy.

Warung ini buka dari pukul 6 pagi sampai 9 siang. Pokoknya jangan datang di atas jam 9 karena sudah pasti dijamin ludes dan bakal gigit jari karena kehabisan.


Sempol

Sempol Laros.

Kalau kuliner yang satu ini awalnya aku kurang tertarik. Biarpun kuliner yang katanya khas Malang ini lagi happening di Banyuwangi khususnya daerah Kota Genteng. Karena jajanan ini bisa kita temui di setiap sudut Kota Genteng. Dengan gerobak yang menarik dan bikin penasaran, akhirnya aku mampir juga ke salah satu penjual sempol yang bernama “Sempol Laros” Laros singkatan dari “Lare Osing” yang artinya Anak Osing (Osing: suku asli Banyuwangi). Sebenarnya rasa penasaranku dimulai akibat dua anak ini.

Inda dan Sintia lagi menikmati sempol bersama Mbak Wenny.

Mereka adalah muridku yang suka banget makan Sempol. Akhirnya tertarik juga lah aku dan beli beberapa tusuk Sempol Laros. Sekilas Sempol ini mirip sama cilok. Cuma dengan penyajian yang berbeda, bentuknya pipih dan ditusuk pake bambu lalu dicelup ke telur untuk kemudian di goreng. Ada beberapa varian rasa yang bisa dicoba, ada Sempol ayam, udang dan ikan.

 Sempol mentah.

 Sempolnya lagi digoreng.

Sempolnya masih panas.

 Harganya nggak bikin kantong protes.

 Cie Mbak Wenny lagi pose manis di depan sempol laros.

Kuliner ini cukup mudah ditemukan karena kebanyakan mereka berjualan berkeliling atau mangkal di pinggir jalan. Bahkan nggak susah menemukan gerobak sempol di mall. Seperti satu ini, salah satu gerobak sempol yang berada di Sun East Mall Genteng.


 Gerobak sempol di Sun East Mall, Genteng.

Nah, berwisata kuliner sambil ditemenin Asus ZenFone 2 itu seru, bodynya yang slim dan bentuknya yang sempurna dengan sisi ultra tipis. Yang ada nih, lebih sering kenyang duluan gara-gara jepret sana-sini sampai lupa makan.

Apalagi kalau lihat hasil fotonya yang keren-keren, ini karena Asus ZenFone 2 memiliki  mode pemotretan di antaranya, mode auto, modus malam, panorama dan HDR. Mode depth on field dapat mengambil dua gambar sekaligus dan menggabungkannya dalam satu gambar dan membuat latar belakang kabur.

Sedangkan di menu settings terdapat fasilitas ISO, white balance dan pengaturan exposre. Ada juga tombol untuk mengatur flash. Lengkap kan. Pokoknya seru deh, berwisata kuliner ditemenin sama Asus ZenFone 2.






Makanya hape ini jadi laris manis dipinjem buat selfie sama murid-muridku. Bayangkan ya, kalau aku kenakan tarif per/jepretnya. Aku bisa kaya raya hahahah *plakk.



Berwisata kuliner udah, jepret-jepret selfie udah. Nah, sekarang jangan lupa ikutan Blogging Competion : Jepret Kuliner Nusantara Dengan Smartphonemu. Sekalian aku juga mau ngucapin selamat ulang tahun buat Gandjel Rel yang ke-dua ya. Meskipun udah lewat beberapa hari, yang penting mengucapkan daripada tidak sama sekali *ngelesnya pinter banget nih, bocah. Sukses terus buat Gandjel Rel


Tulisan ini diikut sertakan dalam Blogging Competition : Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphonemu yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.



Monday, January 23, 2017

Wisnu Wardana (Bagian 2)

Baca Cerita Sebelumnya: Wisnuwardana (Bagian 1)




Tohjaya mengadakan pesta besar-besaran di istana setelah kabar terbunuhnya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tersebar ke seluruh Singhasari. Dirinya mengokohkan diri sebagai raja agung dan tidak ada yang dapat merebut tahta miliknya. Tohjaya merayakan kemenangannya dengan berpesta semalam suntuk bersama Pranaraja dan Lembu Ampal serta ditemani para penari.

Dengan langkah sempoyongan Tohjaya berjalan turun dari tahtanya dan memerintahkan Pranaraja membagikan makanan ke seluruh rakyat Singhasari.

"Aku raja yang baik, bukan," ujarnya dengan terbata-bata. Dia kembali menenggak kendi yang berada di tangannya, sambil menari diiringi sorak sorai Pranaraja dan Lembu Ampal.


Sementara itu Panji Patipati membawa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ke desa Lulumbang, desa kelahiran Panji Patipati. Di tempat ini juga keris yang diberi nama sesuai dengan pembuatnya itu ditempa, hingga kemudian memakan korban pertamanya, Mpu Gandring.

Mereka sampai di sebuah rumah yang dikelilingi tembok setinggi pundak orang dewasa, dengan dua buah pintu di bagian luar. Panji Patipati mengajak mereka masuk ke dalam. Ada dua pendopo berukuran kecil yang berhadapan satu sama lain, sementara di tengahnya ada pendopo yang memiliki ukuran lebih besar menghadap pintu luar.

Begitu masuk pekarangan yang cukup luas mereka melihat seorang pria bertelanjang dada sedang berlatih dengan tombaknya. Tubuhnya kurus dan mungil, namun gerakannya gesit, luwes seperti sedang kesurupan ular. Kuda-kudanya kuat menacap di tanah, sekali ayunan tombak di tangannya mampu menghancurkan setumpuk batu bata merah di depannya.

Pria itu menghentikan gerakannya begitu mendengar suara telapak tangan Panjipati beradu menciptakan bunyi 'prok prok prok'. Wajahnya nampak tidak senang, apalagi ketika matanya menangkap Ranggawuni, pria itu justru meludah.

"Kau benar-benar membawanya ke sini? Apa akal sehatmu sudah hilang?" ujar pria tersebut, dia mengambil kain hitam untuk menutupi dadanya.

Panji Patipati hanya tersenyum ke arah pria tersebut dan berjalan mendekatinya. Meskipun wajahnya terlihat murka tapi pria itu membiarkan Panjipati merangkul tubuhnya beberapa saat.

"Paduka, perkenalkan dia adalah Gunadarma." Panji Patipati memperkenalkan pria itu. Entah ada masalah apa, tapi Ranggawuni merasa pria bernama Gunadarma itu tidak menyukai kedatangannya. "Kita akan tinggal di rumahnya untuk sementara sambil menunggu Lembu Ampal," tambahnya.

"Jadi kau yang bernama Ranggawuni?" Gunadarma berjalan ke arah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Masih dengan sebuah tombak di tangannya. "Apa yang kau miliki sehingga kau berani memberontak ke pada Raja?"

"Jadi kau salah satu pendukung Tohjaya?"

Gunadarma tersenyum menyeringai, dia berjalan memutar mengitari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

"Jika ada yang ingin ke lenyapkan dari muka bumi ni, keturunan Ken Arok lah orangnya."

Ranggawuni semakin tidak mengerti, berada di pihak mana sebenarnya Gunadarma.

"Tunjukan kemampuanmu!" Gunadarma menyodorkan tombak ke arah Ranggawuni, sepertinya Gunadarma sedang menantangnya.
Gunadarma berjalan ke tengah pekarangan setelah kembali menanggalkan sehelai kain hitam yang membungkus dadanya. Dia mengambil sebuah kayu yang berbentuk mirip pedang.

Sedikit ragu Ranggawuni berjalan dan menghadap Gunadarma yang telah membentuk sikap kuda-kuda siaga. Tak mau kalau, Ranggawuni pun memegang tombak dengan kedua tangannya dan mengacungkan ujung tombaknya ke arah Gunadarma, mecoba mengintimidasi.

Ranggawuni mengarahkan tombaknya dengan gerakan menyilang sambil melompat ke arah Gunadarma, namun Gunadarma yang memang telah siap sedari tadi mampu menangkisnya dengan sebilah kayu yang dipegangnya. Kemudian Gunadarma membuat gerakan memutar ke arah belakang Ranggawuni, sikunya memukul tengkuk Ranggawuni hingga terhuyung beberapa saat ke depan. Dengan cepat Ranggawuni kembali berdiri, dia membalikkan badannya dan alangkah terkejut ketika Gunadarma mengarahkan kayunya ke lengan Ranggawuni.

Plak. Kayu itu menyabet lengannya. Andai yang dipegang Gunadarma pedang sungguhan, lengannya kini mungkin sudah terputus dari tubuhnya. Memanfaatkan kuda-kuda Ranggawuni yang lemah, Gunadarma kembali melancarkan serangan, tubuhnya setengah berjongkok dengan gerakan menyilang kakinya menjegal lutut Ranggawuni hingga dia terhempas jatuh ke tanah.

Dengan cepat Gunadarma berdiri dan mengacungkan ujung kayunya ke dada Ranggawuni.

"Orang seperti inikah yang berani menentang Raja?"


To Be Continued



Tuesday, January 17, 2017

Hadiah 100 Cambukan

Di pelosok Khurasan ada seorang lelaki miskin yang hidup serba kekurangan bersama istri dan kelima anaknya. Ketika mereka mendengar bahwa Khalifah membagikan sedekah, namun sedekah itu tak pernah menyentuh kampungnya. Entah apa yang terjadi?

Ketika putri mereka jatuh sakit, lelaki itu berniat pergi ke ibu kota untuk menemui Khalifah. Berangkatlah dia menggunakan keledai yang dia pinjam dari tetangganya. Dengan bekal seadanya lelaki itu menempuh jarak yang cukup jauh dari kampungnya menuju Ibu Kota.

Ketika hari sudah mulai senja, dia memutuskan untuk berhenti dan bermalam di sebuah Masjid. Dia mengikat keledai yang dia pinjam dari tetangganya pada pohon di halaman Masjid, tapi kekita keesokan hari saat dia keluar dari Masjid, keledai itu telah menghilang. Lelaki itu kebingungan mencari keledainya, dia takut sebab keledai itu milik tetangganya yang harusnya dapat dia jaga dengan baik.

Akhirnya dia melanjutkan perjalanan dengan langkah gontai menuju ibu kota yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sesampainya di ibu kota lelaki itu menuju istana Khalifah, tiba-tiba seorang penjaga menghadang langkahnya di depan gerbang istana.

"Siapa kau? Ada keperluan apa datang kemari?"

"Aku rakyat negeri ini, datang ingin bertemu dengan Khalifah bermaksud meminta santunan dan bantuan," ujar lelaki itu memelas.

"Aku akan mengizinkanmu masuk, tapi dengan satu syarat."

"Apa syaratnya?"

"Apapun yang kau dapat dari Khalifah kau harus memberiku setengah bagian."

"Baiklah."

Lelaki itu masuk ke dalam istana, namun hatinya hancur. Baru saja dia kehilangan keledai dan sekarang dia harus diperas oleh penjaga gerbang istana. Dia berjalan menuju lorong istana dan menemukan sebuah pintu besar, ruangan Khalifah. Pintu itu dijaga oleh seorang penjaga yang lagi-lagi menghadangnya.

"Ada perlu apa kau ke sini?"

"Aku berniat bertemu dengan Khalifah untuk meminta santunan dan bantuan."

"Aku akan membukakan pintu ini tapi ada syaratnya. Kau harus memberiku setengah dari apapun yang nantinya Khalifah berikan padamu."

Lelaki itu termenung, jika dia meneruskan masuk untuk bertemu Khalifah pun akan sia-sia. Sebab apa yang akan dia dapat dari Khalifah setengahnya harus diberikan pada penjaga gerbang dan setengahnya lagi diminta penjaga pintu ini. Lalu dia akan pulang dengan tangan hampa.

"Hei, mau tidak?" seru penjaga itu.

"Baiklah. Aku setuju."

Penjaga itu membuka pintu dan mempersilahkan lelaki itu masuk. Ketika bertemu dengan Khalifah, Khalifah tersenyum lantas bertanya.

"Siapa namamu dan apa keperluanmu datang kemari?"

"Khalifah, hamba dari Khurasan datang kemari dengan satu permintaan. Mohon kabulkan permintaan hamba."

"Apa permintaanmu? Jika sanggup aku pasti akan mengabulkan permintaanmu."

"Hamba meminta hadiah 100 cambukan."

Sontak Khalifah terkejut mendengar permintaan lelaki itu. Detik berikutnya lelaki itu menceritakan keadaan keluarganya dan perjalanannya untuk sampai di sini, hingga kedua penjaga yang memerasnya.
Khalifah tersenyum lantas memanggil kedua penjaga itu.

"Lelaki ini telah meminta sesuatu padaku, dan dia bilang dia akan membaginya setengah untuk penjaga gerbang istana dan setengahnya untuk penjaga pintu ruanganku. Aku akan mengabulkan permintaan lelaki ini."

Dengan wajah sumringah kedua penjaga itu senang bukan main memikirkan bahwa mereka akan mendapat hadiah besar. Namun rupanya hadiah yang mereka dapat adalah 100 cambukan dibagi dua maka masing-masing akan menerima 50 cambukan.
Kedua penjaga itu mohon ampun dan berlutut pada Khalifah.

"Bukannya kalian yang memintanya?! Lelaki ini telah menepati janjinya. Dan sekarang kalian akan mendapatkan hadiah yang lelaki ini minta dariku."


Kedua penjaga itu digiring ke alun-alun dan dicambuk di depan ratusan warga kota.
Khalifah lantas memanggil lelaki itu dan memberikan hadiah kepadanya.

"Terimalah uang tiga ribu dinar ini, dua ribu dinar untukmu dan keluargamu, lima ratus dinar berikan pada tetanggamu pemilik keledai yang kau hilangkan, lima ratus dinar bagikan pada fakir miskin di kampungmu. Sekarang pergilah ke kandang istana, mintalah kuda pada penjaga. Apbila ada penjaga yang memerasmu lagi, kembalilah ke sini dan laporkan padaku. Akan aku ganjar dengan hukuman 100 cambukan."

Akhirnya lelaki itu pulang ke kampungnya dengan perasaan bahagia. Sementara dua penjaga yang mendapat hadiah cambukan menjadi bahan tertawa hampir seluruh warga ibu kota.


Dikutip dari buku "Di Atas Sajadah Cinta" karya Habiburrahman El Shirazy

Thursday, January 12, 2017

Misteri Di Balik Keindahan Gunung Ijen




Siapa sih, yang nggak tahu keindahan Gunung Ijen? Matahari terbitnya yang sudah tersohor di manca negara hingga Banyuwangi mendapat julukan Sunrise of Java. Itu juga yang membuatku terpesona dengan keindahan gunung ini sejak kecil. Melihat Gunung Ijen bertengger dengan megahnya bersama Gunung Raung dan Gunung Merapi membentang dari arah utara hingga selatan dan berada di barat Banyuwangi, seolah-olah jajaran pegunungan ini menjadi benteng pelindung Banyuwangi.

Sejak kecil juga aku sering mendengar cerita-cerita menarik tentang Gunung Ijen, tentang kawahnya yang merupakan danau air asam terluas di dunia, tentang blue fire, tentang tambang belerang dan betapa mupengnya aku waktu mendengar cerita Mbak Evy (teman kost semasa PKL) yang dilamar di puncak Kawah Ijen pake bunga edelweis. Mau mau mau...

Entah kenapa saat masih kecil aku bersumpah ingin menginjakkan kaki ke Gunung Ijen sebelum mati, pokoknya ini keinginan terbesarku saat aku masih belum mengerti apa artinya cita-cita. Terdengar konyol ya, tapi memang itulah aku yang mungkin masih polos dan lugu.

Meskipun pada akhirnya aku melupakan mimpi konyol itu, tapi ternyata bisa juga aku berdiri di puncaknya.


Selain terkenal dengan keindahannya, Gunung Ijen ternyata memiliki misteri yang sampai saat ini masih belum terpecahkan dan nggak masuk akal.

Dimulai dari cerita pertama yang aku dengar saat masih duduk di sekolah dasar, cerita ini aku dapat dari anak guru privatku, Mbak Nana. Mbak Nana ini masih kuliah kalau nggak salah dulu dia kuliah di Jember. Saat libur semester dia mengajak beberapa teman kuliahnya yang dari luar kota untuk mendaki Gunung Ijen. Dulu jalur pendakian Gunung Ijen masih berupa hutan belantara yang padat dan rimbun, berbeda dengan sekarang yang sudah dibuat jalan kecil berpasir yang menanjak. Selain itu dulu juga nggak seramai sekarang, kalau sekarang setiap hari ada saja yang mendaki Gunung Ijen kalau dulu masih relatif sepi. Saat aku terpisah dari temen-temenku aku masih bisa jalan bersama pendaki lain bahkan sempet-sempetin nyapa pendaki asal Korea Anyeong Haseyo sudah gitu saja nggak bisa yang lain lagi. Ditambah lagi kalau ingin mendaki Gunung Ijen harus berangkat malam hari agar bisa sampai di puncaknya saat dini hari untuk melihat fenomena blue fire atau api biru yang hanya terjadi pada pukul 2-4 pagi, dan jangan lupa tujuan kamu mendaki gunung ini tentu untuk menyaksikan matahari muncul malu-malu dari balik Gunung Merapi.




Itu sebabnya kalau dulu kamu terpisah sama rombonganmu saat mendaki, temenmu cuma pohon dan hmmm nggak tahu yang nyapa itu manusia atau apa. Nah, kejadian inilah yang menimpa salah satu temen Mbak Nana. Dia tertinggal dari rombongan dan tersesat di hutan belantara yang sepi tengah malam lagi. Dia bilang dia didatangi seorang nenek tua dan bertanya padanya, setelah dia menjelaskan bahwa dia terpisah dari rombongan dan mungkin tersesat, nenek misterius itu memintanya untuk memegang pundaknya lalu menutup mata. "Jangan buka mata apapun yang terjadi sampai Nenek bilang buka matamu," begitu kira-kira kata si nenek. Lalu teman Mbak Nana ini nurut-nurut saja, nggak berapa lama setelah si nenek menyuruhnya membuka mata, taraaaaaa... Nenek tersebut menghilang dan dia berada di puncak gunung nggak jauh dari rombongannya. Meskipun intinya si nenek membantunya, tapi agak serem juga nggak sih, untuk yang keluar bukan nenek gayung.

Cerita berikutnya berasal dari salah satu sahabatku, Wulan yang merupakan selebgram fenomenal dan juga traveler sejati, soalnya kerjaannya jalan-jalan terus. Nah, saat itu dia bersama sepupunya yang bernama Ferdi sedang dalam perjalanan pulang dari Gunung Ijen sekitar pukul 3 sore, saat-saat kritis dimana kabut sedang turun dan menyelimuti jalanan menurun yang mereka lewati. Saat itu motor yang mereka naiki hampir menabrak pohon dan mereka terjatuh di aspal. Ferdi melepaskan kemudi motornya lalu motor itu justru jalan sendiri beberapa meter di jalan menanjak tinggi padahal dalam keadaan mesin mati sebelum akhirnya motor itu ambruk juga di aspal. Saat itu Wulan mmengatakan ada hawa negatif di sekeliling mereka yang mebuat bulu kuduknya merinding. Lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang sambil nggak berhenti mengucapkan istighfar dalam hati.

Tapi itu juga nggak bikin dia kapok buat naik ke Ijen sih. Emang dasar ya, seleb instagram.

Cerita ketiga ini baru aku dengar sepekan lalu dari Putri. Putri bilang sih, dia lihat berita ini di facebook, aku juga nggak tahu sih beritanya soalnya sudah jarang buka facebook. Nah, di berita ini diceritakan tentang pendaki asal Probolinggo yang hilang di Gunung Ijen, setelah dicari seharian pemuda itu akhirnya ditemukan oleh salah satu penambang belerang dengan keadaan telanjang cuma tinggal pakai kolor doang. Saat ditanya dia seperti orang linglung dan nggak sadar. Baru setelah dibiarkan beberapa saat dia mulai sadar dan bercerita bahwa dirinya dikejar-kejar oleh sekelompok pria berseragam seperti polisi membawa samurai, dan dalam penglihatannya dia berada di hutan sendirian nggak ada orang padahal dia udah teriak-teriak minta tolong. Hmmm serem juga ya.


Tapi meski begitu, nggak mengurangi antusias orang-orang untuk mendaki gunung ini, malah tiap hari selalu ramai oleh pendaki apalagi di saat akhir pekan dan hari libur nasional.

Kalau aku sih, nggak kapok ya. Aku masih ingin ke sana. Mudah-mudahan tahun ini bisa naik Gunung Ijen lagi.